Renteng-renteng dari Sidoarjo ke Pasuruan bertandem ria

“Ini kamera kenapa jadi error gini?” Hati saya sempat dongkol begitu sepulang kantor mendapati lensa kit Sony Alpha 350 kepunyaan saya tidak dapat fokus dengan sempurna. Siang tadi kamera ini dipinjam istri saya. Ah, menyebalkan. Tapi rasa gundah tersebut tidaklah lama, saya segera memulihkan suasana muram mengingat besok adalah hari besar kami sekeluarga. Hari yang saya anggap sebuah sejarah kecil keluarga Jelliarko.

Everyone lives sees, whoever travels sees more!

Kegilaan sekaligus kegembiraan macam apa yang bisa anda tawarkan kepada anggota keluarga? Dari sekian puluh pilihan, saya mengajak istri, anak, dan keponakan bersepeda, ya ngonthel, gowes, sejauh kurang lebih 45 km menempuh medan aspal yang panas dari kota tempat tinggal kami, Sidoarjo hingga kota Pasuruan. Trip kali ini bisa dikatakan sebagai uji coba sebelum kami melangkah ke kota yang lebih jauh lagi. Medan jalan yang saya pilih pun datar landai saja, supaya tidak mengalami kelelahan yang parah karena waktu liburan yang terbatas.

Sepeda tandem dengan segala perlengkapan untuk touring kami

Sejak beberapa waktu lalu, saya sudah sibuk mempersiapkan turangga yang akan menjadi sarana mengantar kami ke tujuan. Bahkan tak kurang dari 4 bulan saya perlahan mempersiapkan cita-cita yang tertunda ini. Mulai dari membeli gerobak anak (bicycle trailer) untuk anak perempuan saya, lalu membeli sepeda tandem (terima kasih kepada istri saya yang memberikan ide ini, sekaligus cukup mengejutkan buat saya karena tidak menduga dia pun mendukung dan seiya sekata dengan keinginan saya), kemudian melengkapi dengan aneka aksesoris pendukung semacam tas kecil, GPS holder, spion, klakson, rak depan, lalu yang terakhir adalah sebuah tas pannier yang saya letakkan di boncengan (dipesan khusus dengan harga damai dari Bojonegoro lewat tokobagus dot com). Maka saya merasa lengkaplah sudah sepeda tandem yang menyerupai kendaraan perang kavaleri untuk menjelajah jalanan pulau Jawa.

Kayuhlah, maka sepedamu akan mengantarkan kemanapun kamu pergi

Saya jadi teringat dengan motto seorang srikandi touring bersepeda yang rajin mengunggah kisahnya pada halaman blognya, “Kayuhlah, maka sepedamu akan mengantarkan kemanapun kamu pergi“. Touring bersepeda adalah kegiatan yang lumrah di belahan dunia barat sana tapi belum di Indonesia. Andaipun ada, biasanya berjalan sendiri-sendiri atau berkelompok dengan sepeda single seat. Kami menjadi sangat berbeda karena jenis kendaraan kami dan spirit kebersamaan yang kami usung. Terlebih, kami berani menyertakan anak kami yang masih 5 tahun dan keponakan yang masih duduk di bangku SD kelas 3 dalam kegiatan ini. Wah benar-benar sudah menyerupai keluarga Amerika yang menjadi inspirasi kami. Mungkin kami yang pertama di Indonesia, entahlah hehehehehe………

Banyak orang membayangkan ngeri jika ingat ulah kendaraan bermotor di Indonesia, wuuzz wuuzz….seperti setan jalanan. Tapi sepanjang perjalanan, kami merasakan baik-baik saja. Saya sudah memberikan pengertian kepada istri saya untuk tidak panik (maklum pengalaman bersepeda dia masih sangat hijau). Kebanyakan truk bersedia memberikan ruang (mungkin karena jalannya lambat dan lebih sering berada di kanan). Sementara musuh kami lebih sering adalah motor dan minibus yang kencang meliuk-liuk. Kami sudah mengantisipasi ulah pengendara dengan memasang klakson yang mengeluarkan bunyi semacam sirine yang berisik, untuk memancing perhatian pengguna jalan. Terus terang saya tidak mampu menyembunyikan kekaguman terhadap istri saya yang senantiasa sigap dalam menanggapi ramainya jalan raya dan mengerjakan apa yang saya perintahkan, misalnya memberi gesture tangan untuk berbelok atau mengambil jalur. Tentu saja, sepanjang perjalanan kami terlalu sering menjadi pusat perhatian, dan kebanyakan pengemudi serta masyarakat pinggir jalan menoleh ke arah kami, sambil berkata, “wah enake, wah asyike” (mungkin mereka membayangkan duduk dalam gerobak anak kami). Dalam benak saya terbersit, “enak-enak motomu anjlog, nggenjot koyo ngene iki kesel yo”, hahahahahaha…….However we really enjoyed being celebrities!

26 Oktober 2012

Meninggalkan Kabupaten Sidoarjo

Akhirnya, setelah bangun pagi pukul 04.00 dan meninggalkan rumah pukul 05.00, kami mengayuh santai dengan sepeda tandem dan sang keponakan membuntuti dengan BMX-nya melewati jalan raya Porong kemudian berbelok ke kiri menuju Pasuruan. Hati terasa sungguh berbunga-bunga, ini bagaikan bisul yang pecah, ada perasaan campur aduk antara gembira dan was-was. Perasaan saya tak pernah seantusias seperti sekarang ini, sungguh berbeda dibandingkan dengan pengalaman touring solo. Untunglah hari itu adalah liburan Idul Adha, sehingga lalu lintas masih sepi. Kami malah sempat melewati jalan raya Porong yang ditutup karena sedang digunakan untuk shalat Ied. Kami sempat mampir ke sebuah candi (Candi Gunung Gangsir, Coordiantes 7°35’12″S   112°44’0″E) yang terletak di Dukuh Kebon Candi, Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Memang dalam touring kali ini, saya sudah merencanakan untuk melihat candi tersebut supaya anak-anak kami juga belajar mencintai sejarah dan seni budaya. Alangkah sayang, upaya restorasi yang dilakukan terhadap candi tersebut sudah lama mandeg. Jauh-jauh hari saya sudah mengamati dan membaca di internet tentang jalur mana yang harus dilewati. Memang akhirnya kami terpaksa mengandalkan GPS karena saya melupakan apa yang sudah saya catat dan ingat! hahahahaha. (baru kemudian saya lihat kembali pada Google Map, saya telah mengambil jalan memutar cukup lumayan).

Candi Gunung Gangsir

Setelah mengayuh pedal dalam terik pagi (Surabaya dan sekitarnya memang sedang mengalami puncak suhu tinggi musim pancaroba) dan sering berhenti untuk mendinginkan tubuh dan mengistirahatkan pantat, kami tiba pukul 12 siang di Hotel Pasuruan yang terletak di pusat kota (400 meter-an dari alun-alun dan masjid Agung Al Anwar, serta Shopping Center). Hotel yang disebut-sebut sebagai hotel besar tertua di pusat kota pasuruan ini memiliki tarif kamar yang menurut saya masih masuk akal. Bagi teman-teman yang sedang melakukan perjalanan bersepeda dan ingin mampir menginap di kota pasuruan, saya rekomendasikan hotel ini karena posisinya yang sungguh di central kota dan terutama, sepeda bisa kita parkir di teras kamar kita! Celakanya, saya mengalami kram paha yang akut sehingga gagal menjelajah kota (selain emoh karena suhu udara kota yang tinggi dan lembab). Saya baru merasakan, touring menunggangi sepeda tandem sambil membawa beban dan menarik gerobak adalah usaha yang menguras tenaga dan sungguh pengalaman yang berbeda.

27 Oktober 2012

Pintu gerbang barat memasuki Kabupaten Pasuruan

Penampakan teras kamar Hotel Pasuruan

Setelah istirahat malam yang sangat memadai, akhirnya pagi jam 09.00 kami sudah siap untuk kembali pulang. Kabarnya, kota Pasuruan memiliki banyak arsitektur cantik peninggalan masa kolonial, tapi

Interior kamar hotel Pasuruan

Interior kamar hotel Pasuruan

karena waktu yang tidak bisa diajak kompromi, kami hanya sempat menengok sebuah Gereja Katolik, Santo Antonius Padova di jalan Balaikota No. 1 dan pelabuhan tradisional (jalan masuknya tidak jauh dari Gereja Katolik) yang sungguh elok dan relatif bersih (sejujurnya saya nelangsa karena pelabuhan dengan kapal-kapal kayu yang ciamik itu kurang dipromosikan sebagai obyek wisata). Jadi, sekali lagi, bagi teman-teman yang untuk pertama kali bersepeda ke kota Pasuruan, saya merekomendasikan pelabuhan tersebut sebagai salah satu destinasi (dan bagi penggemar fotografi, lokasi ini pasti sangat layak ditengok). Kami akhirnya meninggalkan pusat kota setelah sebelumnya bergaya di lokasi landmark kota Pasuruan, yaitu Alun-Alun. Perjalanan yang relatif santai ternyata malah membutuhkan waktu lebih singkat ketimbang saat berangkat (mungkin karena kami cukup istirahat malam). Terima kasih kepada istri saya tercinta yang telah tertular virus sepeda stadium 3 dan bahkan berani membantu mewujudkan impian saya sejak lama walaupun baru lancar bersepeda sekitar 4 bulan lalu hehehehehe.

Tipe jalan: Jalan lintas provinsi 4 lajur

Kontur: 93% Landai

Tarif kamar hotel: Rp 250.000

Jadi sekarang layakkah kami disebut sebagai bikepackers?

Gereja Katolik Santo Antonius Padova, jalan Balaikota No. 1

Pelabuhan kapal tradisional Pasuruan

Alun-Alun Kota Pasuruan

Rute spedaan Sidoarjo-Pasuruan

Inginnya mata ini selalu bicara

2 comments on “Renteng-renteng dari Sidoarjo ke Pasuruan bertandem ria

  1. GSS Leces says:

    woiii,, keren banget,, kompak bersama keluarga…

  2. aira irnesya says:

    mau tanya dong pak,
    itu gerobak belakang😀 sepeda tandem apa namanya yah?🙂
    harga berapaan yah kalo boleh tahu? beli dimana? sidoarjo atau sby

    minat nih buat goes keluarga, maklum juga punya anak kecil nih🙂

    thanx responnya yah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s