35 km pertama gowes tandem bersama anggota keluarga

Bangun….ayo bangun!! Sudah diniatkan sejak minggu lalu, bahwa hari Sabtu 15 September 2012 ini aku dan anak istri akan menggowes tandem untuk melihat situs sejarah, Candi Dermo, yang terletak di desa Candi Negoro, Sidoarjo. Memang sesungguhnya di kabupaten Sidoarjo bertebaran aneka peninggalan bersejarah yang sayangnya masih sangat kurang dieksplorasi, bahkan banyak yang sudah ditemukan akhirnya tidak terawat, nelangsa. 

Akhirnya setelah berjuang melawan keengganan bangun pagi, pukul 08.30 kami telah meninggalkan rumah dengan mengendarai sepeda tandem. Aku meletakkan boncengan anak pada rak belakang sepeda itu sehingga saat ini anakku yang berumur 5 tahun bisa turut serta dan sekaligus mengalami untuk pertama kali asyiknya touring bersepeda. Ini adalah pengalaman pertama bagi Jello dan sekaligus uji coba demi rencana touring yang sesungguhnya.

Ngengkol menggunakan sepeda tandem sebenarnya adalah sebuah seni bersepeda tersendiri. Terutama kami harus belajar untuk selaras dalam menggenjot pedal dan saling mengerti isyarat tubuh pasangannya, misalnya bila co-pilot kita ingin berhenti atau memperbaiki posisi duduknya, tentu saja yang duduk didepan sebagai pilot harus segera menyesuaikan agar tidak terjatuh atau kaki terhantam pedal. Demikianpun sebaliknya. Bagaimanapun, tandeman bersama anggota keluarga sungguh bisa meningkatkan kualitas keakraban. Sebagai co-pilot, istriku ternyata sangat galak dalam memberi warning pada pengguna jalan yang lain, dia berkali kali membunyikan bel dengan nyaring. Demikian pula saat hendak berbelok, dengan sigap dia akan melambaikan tangan memberi sinyal pada pengguna jalan dibelakang.

Photo action bareng teman-teman kecil

Sepeda tandem kebanggaan kami

Setelah mengayuh sejauh 10 km tak kurang dari setengah jam melewati jalan kecil ditepian selokan dan menjadi pusat perhatian karena wujud sepeda kami, akhirnya kami tiba di lokasi yang dituju. Candi Dermo terletak tak jauh dari kota Krian, Sidoarjo. Candi tersebut kecil saja dan alangkah sayangnya nampak kurang terawat serta tidak ada informasi penting yang bisa diperoleh di lokasi situs. Hampir saja aku merusak situs ini akibat terpeleset batu tangga yang tidak terpasang rapi, duh!! Namun kelelahan dan kehausan kami terbayarkan dengan hadirnya anak-anak usia sekolah dasar yang segera menyambut kami dengan meriah bagaikan menyongsong kedatangan artis. Setelah berfoto-foto sejenak dan mengisi buku tamu, kami melanjutkan acara gowes hari itu.

Jalur yang telah dijalani dari rumah ke Candi Dermo, Krian, dan kembali ke rumah

Si hebat jello yang kelelahan dan kepanasan

Bimbang antara langsung pulang atau melintasi kota Krian, akhirnya kami berani putuskan pilihan kedua. Genap sudah hari itu menjadi hari yang melelahkan namun memuaskan. Sempat anak kami terlelap dalam boncengan dan terpaksa kami singgah sebentar di halaman gereja Katolik Stasi Krian (Stasi Kebangkitan Kristus, Jalan Ki Hajar Dewantara No. 35) yang lokasinya tak jauh dari keramaian pasar Krian. Tak kurang dari 25 km kami lintasi sejak dari Krian menuju rumah sehingga total jendral sejak keberangkatan pagi, kami telah menggowes sejauh kurang lebih 35 km!.  Sungguh pengalaman menyenangkan yang tak terlupakan walaupun tampaknya kami masih harus banyak beradaptasi lagi, Semangat!!

 Bila mata inginnnya bicara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s