Jadi ilmuwan Indonesia jangan cengeng!

Entah berapa kali saya mendapat pesan untuk tak perlu pulang ke Indonesia selepas lulus dari pendidikan tinggi di Korea. Dahulu pun sempat ada diskusi dalam forum mahasiswa Indonesia soal kembali atau tetap berkarya di luar Indonesia. Well, apapun yang terjadi, hal itu tetaplah sebuah pilihan, tak ada paksaan. Indonesia membutuhkan para ahli pikir dan ahli teknik yang bertebaran di luar sana untuk memulai sebuah kerja nyata. Tapi argumen yang diberikan seringkali tidak seperti yang diharapkan, ………… “Buat apa pulang ke Indonesia jika toh hanya dapat kerja bergaji cukup makan,  bekerja tidak sesuai dengan keahlian, lebih parahnya malah menganggur tidak karuan”. Saya paham, thesis dari argumen tadi adalah kesejahteraan hidup (siapa yang tidak membutuhkannya?). Tapi, perkenankan saya berbagi profil singkat tiga orang (saja) kenalan baik yang berani melawan serba ketidakpastian itu, bekerja dalam senyap, dan mulai menjadi pemenang. Mereka telah sukses di negeri asing dan akhirnya memutuskan untuk berkarya di Indonesia. Kita membutuhkan orang seperti mereka lebih banyak lagi! Ayo pulang!

Dr. Suryadi Ismadji

Sumber: Facebook

Dikalangan akademisi teknik kimia Indonesia, nama beliau saya amini tidak asing lagi. Sebagai dosen muda, peneliti, dan mantan Ketua Program Studi Teknik Kimia Universitas Widya Mandala, Surabaya, sepak terjang beliau di gelanggang Kurusetra teknik kimia bukan main-main. Sementara banyak para dosen maupun peneliti sekembalinya mereka menempuh pendidikan tinggi di manca negara menjadi mandul tanpa hasil penelitian yang layak dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional papan atas, Dr. Ismadji bersama grup penelitiannya di kampus Teknik Kimia Universitas Widya Mandala, Surabaya  menghasilkan karya-karya ilmiah yang juga dilaporkannya dalam jurnal-jurnal internasional. Bukan sekedar jurnal internasional saja, sebagian besar publikasi milik Dr. Ismadji (tercatat hingga menjelang akhir tahun 2010 ini mencapai 45 judul artikel) termuat dalam jurnal internasional berkelas SCI (Science Citation Index) dengan IF (impact factor) tinggi. Seperti sudah pernah saya tuliskan sebelumnya bahwa sebagai ilmuwan maupun akademisi, kepakaran mereka harus bisa dibuktikan dalam publikasi internasional. Selain itu, banyaknya publikasi internasional bakal menjadi salah satu ukuran sejauh mana penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebuah negara. Jadi, secara langsung Dr. Ismadji sudah berhasil membuktikan  kepakaran beliau dalam bidang keteknikan kimia sekaligus secara tidak langsung mengangkat harga diri Indonesia dalam kancah internasional.

Saya ingin mengangkat pesan ini, bahwa dalam segala keterbatasan fasilitas penelitian di Indonesia,  Dr. Ismadji telah banyak menghasilkan karya ilmiah bermutu tinggi, sebuah prestasi yang nampaknya sangat sulit diraih. Dr. Ismadji telah membuktikan bahwa beliau bukanlah ilmuwan cengeng yang bermimpi-mimpi bakal disediakan fasilitas penelitian yang memadai sepulang dari tugas belajar atau menghiba perhatian dan zakat dana penelitian dari pemerintah.

Dalam pengamatan saya, beberapa resep kesuksesannya (selain kerja keras tentunya) adalah kemampuannya membangun jejaring lintas negara dan juga kejeliannya melihat peluang penelitian yang orisinil dan bisa 100% dilakukan di Indonesia. Sepanjang pengetahuan saya, beliau beberapa kali mendapatkan kesempatan menjadi visiting professor maupun visiting researcher di manca negara. Selain itu, topik penelitian yang dipilihnya berkaitan dengan ketersediaan bahan alam Indonesia dan bagaimana meningkatkan nilai tambahnya. Inilah pilihan topik jitu jika kita ingin menjadi peneliti yang berhasil di Indonesia. Saya yakin masih ribuan potensi bisa kita kembangkan dari sumber daya alam Indonesia yang nantinya menjadi sesuatu yang punya manfaat tinggi, dan Dr. Ismadji telah merintisnya. (Sekilas curriculum vitae bisa dilihat dengan meng-klik nama beliau).

Dr. Bambang Veriansyah

Sumber: Facebook

Seorang doktor muda teknik kimia lulusan dari negeri gingseng, Korea Selatan. Beliau memiliki kepakaran yang masih sangat langka di Indonesia yaitu tentang fluida superkritis. Menggenggam tak kurang dari 25 publikasi internasional (juga dimuat pada jurnal-jurnal papan atas) dalam bidang aplikasi fluida superkritis. Akhirnya toh setelah tujuh tahun berkarya di Korea Institute of Science and Technology (KIST), memutuskan untuk pulang demi sebuah cita-cita. Padahal saya tahu persis bagaimana pimpinannya mencoba membujuk beliau untuk tinggal lebih lama atau bila perlu menetap selamanya.

Kini berbekal pengetahuan dan keahlian yang istimewa tadi, Dr. Veriansyah bergabung dengan sebuah perusahaan farmasi nasional yang merintis konsep industri berbasis riset (research based industry). Walaupun mungkin hasil-hasil penelitiannya kelak tidak menjadi milik umum, namun secara tidak langsung bakal membawa manfaat bagi Indonesia. Jika boleh berandai-andai, misalnya penelitian-penelitian yang akan dikembangkan berkaitan dengan tanaman obat, tak pelak banyak disiplin lain akan terlibat, mulai dari disiplin pertanian, kimia, biologi, farmasi, ketehnikan kimia, dan lain lain. Dengan demikian, penelitian tak hanya memberi keuntungan bagi perusahaan tapi juga bagi para petani tanaman obat, bagi lingkungan, bagi ilmuwan-ilmuwan lain yang terkait dan seterusnya, inilah yang disebut multiplier effect.

Dalam pandangan saya, hanya perusahaan-perusahaan visioner yang bersedia melakukan penelitian mandiri semacam inilah yang nantinya akan menjadi besar dan maju. Siapa yang bisa menyangkal bahwa mulai dari Microsoft hingga Samsung, tidak satupun dari mereka mengecilkan arti penelitian dan pengembangan inovasi. Alih-alih Dr. Veriansyah menjadi cengeng dan takluk pada pilihan hidup nyaman di Korea, dia malah memutuskan pulang ke Indonesia bergabung dalam perusahaan yang peduli terhadap pengembangan riset. (Sekilas curriculum vitae bisa dilihat dengan meng-klik nama beliau).

Dr. Antonius Indarto

Sumber: Facebook

Teman karib saya ini sudah bagaikan idol bagi saya. Kami bersama Dr. Bambang Veriansyah termasuk dari lima mahasiswa Indonesia perintis di Korea Institute of Science and Technology (KIST). Dari penampilan fisiknya siapa yang menyangka pria belia ini (terlahir tahun 1980) lulusan master teknik kimia dan doktor kimia (S2 dari KIST dan S3 dari Torino, Italia) yang telah memiliki publikasi ilmiah internasional lebih dari 30 buah dalam dua bidang yang berbeda. Beliau menyelesaikan pendidikan S1 dalam bidang teknik kimia, dan mendalami aplikasi plasma saat S2 untuk kemudian tiba-tiba memulai S3 dalam bidang kajian yang sebelumnya sama sekali tidak dikuasainya yaitu pemodelan kimia molekuler. Pemahamannya tentang kimia dan teknik kimia yang menyeluruh lagi beragam menjadi modal baginya untuk menjadi peneliti muda berbakat suatu saat nanti.

Kini Dr. Indarto telah kembali ke Indonesia merintis karir di kampus alma maternya, Institut Teknologi Bandung (ITB). Bagi saya itu merupakan suatu pilihan berani karena siapapun bakal paham bagaimana sulitnya memulai sebuah hidup mapan sebagai seorang dosen muda. (Sekilas curriculum vitae bisa dilihat dengan meng-klik nama beliau).

Mereka tidak ribut memaki pemerintahan yang degil, mereka setia bekerja keras dengan penghasilan yang layak walaupun belum tentu mewah, mereka tidak cengeng mengeluh dan lari dari kenyataan terburuk, dan mereka telah membuktikan bisa memberikan karya terbaik. Indonesian scientists, come back home, we need you more than before for a better Indonesia!!

Jikalau mata ingin bicara

N.B.

Mohon maaf kepada Bapak Suryadi, Mas Bambang, dan Mas Anton atas pemuatan nama-nama dan foto-foto anda sekalian tanpa ijin terlebih dahulu. Ini saya lakukan terlebih karena ingin mengungkapkan perasaan kekaguman dan harapan. Jikalau Bapak Suryadi dan Mas-mas sekalian tidak berkenan, mohon saya diberi kabar agar bisa saya lakukan pembenahan. Salam dan terima kasih !

Berita inspiratif lainnya:

11 comments on “Jadi ilmuwan Indonesia jangan cengeng!

  1. Rika says:

    kapan ya mas aku jadi salah satu di artikel ini? *ngayal…
    salut lah buat mereka bertiga di atas

  2. Santi says:

    Salut but mereka. Bentar lg nambah daftarnya, Dr. Jelli kembali ke Indonesia karena sudah tak tahan dengan Kim Hyung Syik…kk

    • Ho oh, terima kasih dukungannya, tapi jeng Frida, klo nulis itu pelan-pelan, saya luruskan kalimatmu ya…..Salut buat mereka,………karena sudah tak tahan dengan Kim Hoon Sik (bukan Kim Hyung Syik) hehehehehe, salam !

  3. adhie says:

    ga nyangka pas ketemu mas anton ini beliau udah S3… pas ketemu buat pembicaraan saya kira beliau masih s2.. pas saya ketemu dosen pembimbing saya, ternyata beliau udah S3!! salut banget! saya bener2 gak nyangka kalau orang semuda mas anton udah jadi doktor… dan banyak senior-senior syaa yang mengatakan kelak beliau menjadi dosen yang hebat😀

    • Halo adhie,
      loh kamu kenal dengan mas anton? ya dia memang pemuda sangat cerdas dan berbakat, aku secara pribadi juga mengagumi dan menjadikanya sebagai idola. Pasti dia akan menjadi dosen dan peneliti hebat dimasa depan!.

      Salam!

  4. doraketiemon says:

    wah,,,semua nya alumni teknik kimia yang hebat2 ya..saya juga lagi kuliah di teknik kimia…artikel nya sangad menginspirasi…

  5. Bintari says:

    Thank you, Jel. Aku baru aja pengen kabur ke luar lagi karena situasi “kesejahteraan” yang memang beda jauh. Selain itu masalah adaptasi dalam manajemen yang amburadul, menurut kita yang terbiasa bekerja dalam manajemen yang rapi yang memungkinkan sikap kritis, makin bikin aku gak betah. Tapi baca tulisan kamu, kupikir memang keadaan yang serba tidak sempurna ini harusnya memacu kita untuk memperbaiki, bukan meninggalkannya.
    Sekarang aku punya cukup semangat untuk bertahan di sini. Mungkin suatu hari, energi dan kesabaranku akan mencapai batasnya, sehingga akan kuutamakan kesejahteraanku. Tapi semoga hari itu masih lamaaa banget…

  6. ariesadhar says:

    Dan kebetulan saya sekantor dengan Pak Bambang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s