Sukses menulis artikel untuk jurnal ilmiah internasional

Dalam komunitas akademi dan penelitian, sebuah kerja bakal memiliki nilai ilmiah dan bermanfaat untuk dikembangkan jika bisa dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional.  Disamping itu, publikasi ilmiah merupakan bukti tanggung jawab profesi sebagai ilmuwan maupun akademisi. Kenyataannya, tidak semua hasil penelitian mendapat peluang ditayangkan dalam jurnal ilmiah internasional. Banyak hasil penelitian di Indonesia hanya berakhir sebagai buku skripsi atau thesis maupun lembar prosiding yang tidak melalui proses penjurian ketat. Padahal, jumlah publikasi internasional merupakan ukuran atau indeks kemajuan dan kematangan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu negara.

Untuk bisa menembus publikasi internasional rangking atas, dibutuhkan bukan sekedar ribuan data dan kecakapan menulis tapi juga kiat tertentu karena jurnal-jurnal papan atas memiliki tahap penjurian yang ketat. Sebenarnya aspek penting apa saja diluar isi naskah yang perlu diperhatikan demi suksesnya publikasi internasional sebuah artikel ilmiah?

Mitos

Ada beberapa kekurangpengertian dikalangan mahasiswa bahkan akademisi atau ilmuwan Indonesia yang perlu digenapkan.

  1. Perlu membayar ratusan dolar atau euro demi sebuah publikasi internasional. Kenyataannya, selama beberapa kali karya ilmiah saya berhasil ditayangkan pada jurnal internasional, tak sepeserpun dolar dikeluarkan. Bahkan saya mendapatkan kiriman satu exemplar jurnal. Perlu diketahui bahwa semua jurnal yang dikelola oleh penerbit-penerbit papan atas, ACS (American Chemical Society), RSC (Royal Society of Chemistry), Elsevier, Springer, Taylor & Francis dan beberapa yang lain tidak memerlukan biaya apapun mulai dari penerimaan naskah hingga saatnya disiarkan baik lewat media internet maupun cetak. Memang ada banyak penerbit internasional yang meminta penulis untuk membayar jika naskah mereka layak tayang. Biasanya mereka menawarkan keuntungan, misalnya naskah kita bisa diakses oleh siapapun juga secara daring (online). Disebutkan bahwa naskah yang bisa dibaca daring oleh publik memiliki peluang bakal lebih banyak disitasi atau dikutip. Tapi perlu diperhatikan bahwa sampai sekarang, jurnal-jurnal yang dikelola oleh penerbit-penerbit semacam ini jarang sekali menduduki rangking atas.
  2. Kajian penelitian harus menawarkan sebuah topik atau konsep baru. Naskah dengan topik yang baru atau orisinil tentu saja memiliki peluang besar untuk diterima oleh jurnal-jurnal papan atas yang memiliki nilai indeks Impact Factor (IF) tinggi. Tapi seandainya toh kita tidak memiliki sesuatu yang baru, peluang untuk publikasi tetap besar, asalkan kita memiliki data-data baru yang mungkin lebih akurat, atau kita kupas dari sudut pandang yang berbeda, sebagai contoh dari pengulangan penelitian usang bisa diperoleh data baru yang memiliki korelasi baru.
  3. Hanya hasil-hasil percobaan yang memuaskan atau menunjukkan peningkatan performa suatu fenomena saja yang layak dipublikasikan. Sekali lagi, sesuatu yang hebat bakal memiliki peluang untuk dipublikasikan di jurnal papan atas. Namun, saya memiliki pengalaman dan juga membaca banyak judul artikel yang isinya bukan menampilkan sesuatu yang hebat dan unggul. Saya hanya memiliki beberapa data karakterisasi material dan data percobaan dari suatu sistem katalis yang bahkan sudah pernah dipublikasikan oleh grup lain. Tidak ada yang istimewa dari katalis yang saya sintesis, tapi saya menemukan sebuah korelasi menarik antara variasi penyiapan sampel, karakter fisik dan kimia material, dan reaktifitasnya.

Kiat Sebelum Mengirim Naskah

Pemilihan jurnal. Ini adalah kiat yang sangat penting karena salah memilih jurnal bisa berakhir pada kata “rejected” alias ditolak. Pemilihan jurnal yang tepat perlu memperhatikan tema utama dan kualitas kerja yang kita hasilkan. Tema yang sangat khusus bisa langsung menuju jurnal yang memang mendedikasikan halamannya bagi topik khusus, misalnya Journal of Catalysis, Nano Letters, atau sejenisnya. Kemudian penulis bisa menilai secara jujur apakah kualitas kerja yang dihasilkan cukup mumpuni atau tidak. Jika ternyata kurang percaya diri, maka pilihlah jurnal-jurnal rangking menengah atau bawah tapi tetap dalam lingkup internasional. Kriteria rangking bisa dijelaskan dengan gamblang melalui sebuah nilai, yaitu Impact Factor (IF).

Jika ternyata penelitian kita merupakan topik interdisipliner, maka kita bisa memilih jurnal yang mengandung cakupan bahasan sesuai dengan topik kita. Biasanya hal ini dapat ditemukan pada laman internet jurnal bersangkutan dibagian aim & scope. Sebagai contoh, kita melakukan penelitian tentang penyerapan gas CO2 untuk mengendalikan emisi dari pembangkit listrik tenaga uap, maka jurnal yang memiliki lingkup isu lingkungan atau yang lebih umum lagi, misalnya jurnal teknik kimia umum bisa kita tuju. Tapi seandainya kita mensintesis suatu zat penjerap CO2 yang sungguh-ungguh baru dan melakukan karakterisasi serta uji aktivasi menyeluruh, maka kita bisa percaya diri memilih jurnal yang lebih khusus, misalnya Journal of Organic Chemistry dengan IF yang tentu saja bernilai tinggi.

Tidak cukup asal-asalan (pokoknya yang penting publikasi internasional), tujuan pemilihan jenis jurnal yang tepat selain untuk mendapatkan peluang diterima, terutama juga untuk membidik jenis pembaca atau pengguna artikel kita. Boleh dikatakan bakal sia-sia jika kita memiliki penelitian yang cantik tapi tidak atau sedikit saja orang mengacu kerja kita hanya karena salah memilih medium.

Pemilihan juri yang disarankan (suggested reviewer). Setiap kali kita mengirimkan naskah, pihak penerbit akan meminta sebuah daftar nama (biasanya minimal 3 nama) termasuk alamat kawat dan surel (E-mail) serta keahlian mereka yang nanti bakal menjadi juri buta (blind reviewer). Editor memiliki hak untuk tidak memilih nama yang kita sarankan dan mengganti dengan nama lain tanpa sepengetahuan kita. Editor bakal menilai apakah nama yang kita sarankan memenuhi standar yang diterapkan atau tidak, jadi kita juga tidak boleh asal memilih juri. Idealnya kita ingin tim penilai yang betul-betul mumpuni dan ahli dibidang yang kita geluti. Juri tipe tersebut biasanya nama yang populer dan mudah ditemukan dari puluhan publikasi mereka. Tapi, sering kali juri-juri tersebut adalah orang-orang yang sangat sibuk sehingga sering terjadi mereka malah menolak saat diminta menjadi juri. Paling nyaman sebaiknya memilih juri yang memiliki kepakaran sesuai tapi belum terlalu populer. Pilih nama dari beberapa negara tapi jangan memberikan nama dari negara dimana kita melakukan penelitian. Misalnya, kita orang Indonesia yang melakukan penelitian di negara Jepang, maka jangan memilih juri dari Jepang. Banyak terjadi kasus seorang penulis naskah mengajukan nama kolega atau kenalan mereka di negara lain sebagai kandidat juri. Walapun kemungkinan untuk terdeteksi kecil, hal ini bisa dikelompokkan sebagai tindakan pelanggaran kode etik.

Surat pengantar (Cover Letter). Surat dengan format resmi ditujukan kepada editor utama. Selain menyebutkan judul naskah, sebutkan pula sedikit latar belakang masalah dan hasil dari penelitian kita. Biasanya saya menyebutkan pula alasan mengapa naskah saya layak dipertimbangkan (diistilahkan highlight), misalnya belum pernah diteliti oleh pihak lain (novelty) atau menawarkan sebuah kecenderungan baru (new trend).

Kini internet sudah jamak digunakan sebagai medium pengiriman naskah. Penulis perlu menuju jurnal yang diinginkan kemudian melakukan pendaftaran dan setelah itu bisa langsung mulai melakukan pemuatan naskah (upload). Sebelum proses pemuatan, disarankan agar memeriksa kembali semua berkas dan dicocokkan kembali dengan petunjuk penulisan naskah (author guidelines).

Kiat Setelah Menerima Tanggapan Juri (Proses Revisi)

Setelah menunggu beberapa waktu, tak perduli layak atau tidak layak untuk ditayangkan, editor akan mengirimkan komentar dari dewan juri. Jika dianggap layak, biasanya kita akan diminta melakukan revisi sebagaimana saran juri. Tapi jika naskah ditolak, kita sebenarnya memiliki hak untuk melakukan pembelaan diri, tapi saya tidak menyarankannya. Selain membuang energi, peluang untuk benar-benar diterima sebenarnya sangat kecil, apalagi jika jurnal tersebut termasuk papan atas. Jadi segeralah mengatur strategi kembali untuk mengirim ke jurnal berbeda.

Menanggapi revisi. Dengan membaca komentar dari beberapa juri, kita bisa langsung mengerjakan apa yang diminta oleh juri tersebut, misalnya mungkin kita diminta menambahkan pustaka, menambah-kurangkan kalimat, melengkapi gambar-tabel, dan sebagainya. Kritik dan saran kadang kala tampak naif dan seolah si juri tidak menguasai bidang kajian kita atau malah seolah tidak membaca menyeluruh naskah kita. Saran jitunya adalah, jangan mencoba membantah!! Walaupun kita sungguh sadar bahwa kritik yang diberikan terdengar naif, gunakan kalimat yang lembut dan merendah (humble) dan ikuti kemauan mereka selama itu masih memenuhi kaidah ilmiah, misalnya…..”We apologize for inaccurate conclusions, the following statement, ………………..is revised into ……………… ,as you suggested“.

Lebih menantang bila kita harus menghadapi komentar juri yang sungguh memahami kerja kita. Seringkali mereka meminta kita melakukan pekerjaan tambahan untuk memenuhi hasrat keingintahuan juri atau untuk melengkapi isi diskusi naskah kita. Tentu saja kita tidak punya banyak pilihan selain memenuhi apa yang diminta selama masih dalam batas kapasitas kita. Tapi, pernah terjadi saya diminta melakukan perhitungan permodelan termodinamika yang terus terang diluar keahlian saya. Menanggapi permintaan tersebut, saya menjawab jujur bahwa tugas tersebut tidak bisa saya penuhi karena keterbatasan keahlian saya. Kemudian, saya memberikan contoh beberapa literatur yang menunjukkan bahwa pengolahan data yang saya lakukan sudah cukup menjawab persoalan ilmiah.

Tuliskan semua jawaban kita terhadap kritik dan saran dari para juri, jelaskan bagaimana kita menanggapi kritik juri. Jikalaupun kita tetap bertahan dengan argumen kita, maka berikan alasan ilmiah disertai bukti literatur atau experimen tambahan. Setelah semua kritik dan saran dielaborasi, kita perlu membuat sebuah daftar lampiran, menyebutkan bagian mana saja yang mengalami revisi, misalnya membuat tabel dengan format 3 kolom yang berisi, 1. Nomor halaman, baris, bab; 2. Kalimat naskah asli; 3. Kalimat baru naskah revisi.

Sebelum mengirimkan naskah yang sudah direvisi, perlu sekali lagi membuat sebuah surat pengantar (cover letter) ringkas kepada editor.

Anda punya informasi yang berkaitan? mari kita berbagi…………………..

Bila mata ingin bicara

Berita terkait:

15 comments on “Sukses menulis artikel untuk jurnal ilmiah internasional

  1. debby says:

    Wah..daku malu nih.semua proses pmbuatan paperku,yg notabene gada apa2ny dibanding siapapun jg anak indo d kist,smuany dikerjain ma dr hyunjoo lee.aku gatau apa2.cm suru lengkapin data lah.ini itulah.tau2 dah publish>•<

  2. sutia budi says:

    trima kasih postingan-nya. ini sangat bermanfaat bagi insan akademis.
    salam dan sukses selalu….

  3. quinie says:

    huaaa tips2 yang keren. JAdi karya kak Jelli sudah berapa kali dipublish?

  4. Dimas says:

    Mas, boleh nanya ya? Institusi tempat kita meneliti (mis. kampus, puslit)tuh ada bobot/pengaruhnya nggak sama diterima/ditolaknya naskah kita? Aku kadang2 kuatir kalo bawa nama lembaga jadi muncul adu prestise juga. Maklum, dari kampus sederhana…hehehe. Thanks ya pencerahannya.

    • Halo mas Dimas,
      Tidak pernah terjadi diskriminasi terhadap proses pertimbangan layak/tidak sebuah naskah ilmiah di jurnal internasional. Yang menjadi kriteria penilaian adalah mutu dan keaslian karya ilmiah itu sendiri. Selama bisa dipertanggungjawabkan menurut kaidah ilmiah, maka naskah kita pasti akan dipertimbangkan. Nah, apa yang saya tuliskan itu adalah sisi lain dari proses penjurian sebuah naskah imiah dan berdasarkan pengalaman saya yang telah beberapa kali mengirimkan makalah. Saya juga sering diminta menjadi juri (reviewer) sebuah naskah dari ilmuwan lain, jadi saya cukup paham prosesnya.

      Salam !

  5. Karnowo says:

    wah mantap Pak.Selamat Pak…ada 100 indonesia seperti Bapak…kita sudah punya 2300 jurnal internationa…🙂..ini saya baru mulai belajar nulis…yang jadi kesulitan saya malah di writingnya…Pak…boleh mintap tip tipnya….Saya di KU fukuoka.

  6. Udin says:

    Melihat daftar publikasi anda, anda termasuk sangat produktif. Saya salut dan berharap anda tidak berhenti dan berpuas diri. Tulisan anda sangat bermanfaat, dan bagus lagi kalau dielaborasi lebih dalam ke pengalaman-pengalaman anda.
    Terima kasih atas tulisannya!

  7. Ali Taufik says:

    SEBUAH ULASAN SEDERHANA TAPI PENUH MAKNA
    SAYA JUGA MAS BARU MULAI NYOBA NYOBA ,MOHON BANTUAN NYA
    SAYA RENC NULIS TTG PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN /KEGURUAN.

  8. Zaenal Abidin says:

    Informasi yang anda sampaikan sangat berharga dan memotivasi saya untuk menulis di jurnal international. Pertanyaan saya… Apakah memungkinkan tulisan saya dimuat Jika saya menganalisa parameter yang saya amati di laboratorium yang tidak terakreditasi (meskipun hasil analisanya bisa dipertanggung jawabkan) ?. mohon penjelasannya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s