Sembilan alasan ingin pulang ke Indonesia

Rasanya tidak adil jika saya tidak mengungkapkan hal ini. Saya pernah menuliskan 10 alasan senang tinggal di Seoul, Korea Selatan, tapi kecintaan pada tanah air senantiasa menjadi daya harapan dan keinginan untuk kembali pulang pada saatnya nanti.  Saya berpikir keras tentang 10 alasan untuk pulang ke Indonesia tapi nyatanya saya hanya mendapatkan 9 saja. Tapi kesembilan alasan itu sudah cukup meneguhkan keinginan saya. Apa sajakah alasan itu?

1. Keluarga besar. Saya bukan jenis manusia yang mudah hidup bertahan dalam kesepian. Saya senantiasa ingin berada dalam kehangatan dan kegembiraan ditengah-tengah keluarga dan handai taulan. Ya saya adalah manusia Jawa dan berlakulah buat saya pameo mangan ora mangan sing penting kumpul. Saya membayangkan ketika Natal dan tahun baru pergi ke gereja bersama-sama lalu kemudian berpesta kecil dalam keakraban.

2. Yogyakarta. Nama kota ini selalu menggetarkan batin saya. Mengenang kota ini saya pasti mengharu biru. Mungkin sebagian alasannya karena Yogyakarta adalah kota kelahiran dan kampung halaman saya. Tapi disamping itu manusia dan alam Yogyakarta memang memiliki karisma yang menentramkan hati.

3. Rumah tinggal. Di Jerman dan di Korea saya harus tinggal di sebuah apartemen sempit dan terpaksa berbagi teras dengan tetangga. Lalu saya membayangkan rumah orang tua saya dengan dua halaman kecil yang dipenuhi aneka tumbuhan bahkan pohon rambutan.

4. Tantangan hidup. Beberapa orang menanyakan, “Selesai sekolah ingin tetap bertahan dan bekerja di luar negeri?”. Mengapa harus bekerja di luar negeri? Jika alasannya karena uang semata tentu saya mengiyakan. Tapi saya punya pertimbangan lain. Saya pernah berkenalan dengan seseorang yang sudah 15 tahun hidup di Amerika sana dan akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia pada usianya yang masih muda, jawabnya, “Di Indonesia masih banyak tantangan”. Saya pikir benar juga, bukankah tantangan itu berarti kesempatan? Kesempatan itu bisa berarti juga lahan garapan kerja. Saya masih mengamini jika negara kita memiliki sumber daya alam yang belum diexplorasi secara optimal, jikalau saya bisa memanfaatkan ketersediaan dan peluang tersebut saya tidak perlu tinggal di luar negeri untuk hidup layak.

5. Kenyamanan batin. Biarpun hidup di negara asing yang modern semacam Korea Selatan atau Jerman dengan fasilitas hidup yang lebih dari cukup dan lebih dari baik, tetap saja saya adalah orang asing. Orang asing berarti warga negara kelas dua dan bakal menghadapi tindakan atau pikiran diskriminatif. Saya sudah mengalami perlakuan diskriminatif ketika di Jerman (walaupun tidak fatal), atau saya harus memiliki tetangga rumah di Korea yang senantiasa memandang curiga, atau saya sering mendengar kabar bahwa mas A, mbak B yang bekerja di Korea diperlakukan tidak wajar, atau mbak A yang menikah dengan pria Korea diperlakukan tidak adil, atau mendengar orang Korea khasak khusuk mengatakan bangsa Indonesia, bangsa Vietnam, Bangladesh, India, Pakistan, Myanmar, Laos, Philipines dan seterusnya adalah bangsa bodoh. Ya, semua itu adalah bentuk diskriminasi dan saya sangat tidak nyaman dengan hal tersebut.

6. Tamasya. Mas A mengatakan negeri B luar biasa indah dari Indonesia dan ingin tinggal di sana, mbak C menyebutkan ingin ke negara D karena katanya alamnya lebih elok ketimbang Indonesia. Bagaimana jika kita meluangkan waktu sejenak mengetik kata kunci “Pantai Indonesia” atau “Pemandangan Alam Indonesia” pada kolom pencarian Google Image? Saat saya berada di Korea saya baru menyadari kekayaan pariwisata Indonesia sangatlah beragam dan seringkali kita tidak perlu pergi jauh untuk mencapainya.

7. Kuliner dan buah-buahan. Ini tidak perlu saya bahas berlarut-larut.  Jumlah suku yang katanya lebih dari 300 itu sudah mengatakan kebenaran akan kekayaan kuliner Indonesia. Cobalah berangkat dari  Seoul yang berada di ujung utara semenanjung Korea, lalu bergeraklah ke arah pelosok selatan, ke kota Busan, perhatikan menu restorannya, nyaris seragam! Padahal Seoul-Busan berjarak 330 km. Sekarang berangkatlah dari solo ke Yogyakarta yang hanya 65 km jauhnya, bahkan langgam gudegnya saja sudah berbeda. Siapa yang tidak suka es teler dan martabak manis keju? Hasrat saya ingin es teler atau martabak hanya sempat terpuaskan bilamana saya tertidur. Buah? Terakhir kali saya makan buah durian mungkin dua tahun lalu dan makan salak, rambutan, atau mangga mungkin 5 tahun yang lalu.

8. Gotong royong dan tenggang rasa. Biarpun masa kini sudah banyak cerita di kota besar orang sulit diajak kerja bakti, tapi jika kita pergi sedikit menyingkir ke pedesaan masih mudah kita temui kegiatan seperti ini. Sementara saya melihat manusia Seoul asyik menikmati pertunjukan pada layar TV dalam genggaman dan tidak memberikan tempat duduk pada ibu-ibu renta yang berdiri di dalam bus, saya membayangkan orang Indonesia yang tiba-tiba berdiri mempersilahkan orang tua untuk mengambil alih bangku yang didudukinya.

9. Libur panjang. Oh saya merindukan hari-hari libur panjang untuk sekedar bersepeda di pagi hari, berbelanja di pasar tradisional, duduk di teras sambil minum kopi dan makan pisang goreng atau bepergian bersama keluarga atau bersama teman-teman.

Anda punya pandangan atau alasan berbeda?…………………………………….Saya akan pulang, pasti!

Jikalau mata ingin bicara

10 comments on “Sembilan alasan ingin pulang ke Indonesia

  1. ully says:

    saya juga pengen pulang… hikkss..!!!

    nice post…

  2. me says:

    kurang setuju dengan alasan no. 5 Kenyamanan batin.

    Bagi orang2 yg keturunan, justru diluar negeri lebih nyaman..karena tidak didiskriminasi..sedangkan di Indonesia…didiskriminasi..

    mudah2an Bang Jelly bisa memberitahu ke teman2 di Indonesia…jangan melakukan sikap diskrimasi.

    • Halo mbak/mas………….
      trima kasih sudah menyampaikan komentar. It’s true, discrimination crosses any borders. Saya tidak menyangkal di Indonesia juga ada diskriminasi, dan seringkali lebih fatal. Ya bebas-bebas saja menyampaikan pendapat pribadi, jujur 9 alasan itu yg saya miliki, mungkin anda punya alasan berbeda. Paling-tidak kita masih punya tanah air untuk pulang. Semoga semakin hari Indonesia semakin baik.

      Salam………………..

  3. wiki ilyas says:

    Pulang aja mas Indonesia memerlukan ahli seperti Anda, perkenalkan saya wiki ilyas penggiat green chemistry, silahkan klik saja http://www.greenchemistryindonesia.wordpress.com, soal isi masih jauuuuuuuh daripada yang Mas punya tapi lumayan bagi saya yang sedang belajar green chemistry, kalau boleh kita bisa diskusi lewat email dsb.Oya juga mohon ijin mengutip uraian Mas di blog saat nanti memerlukanya, tentu saja nanti dicantumkan nara sumbernya salam perkenalan

    • Hallo Bung Ilyas, salam kenal. Terima kasih sudah menengok dan meninggalkan goresan kesan pada halaman blog saya. Dengan senang hati saya menyambut tawaran anda, kapan saja kita bisa diskusi dan berbagi pengetahuan khususnya tentang tema kimia hijau. Saya juga sempat melihat fcbook anda, mungkin blog kimia hijau saya bisa ditautkan ke sana juga. Salam !

  4. Rika says:

    mari pulang… marilah pulang… marilah pulang bersama sama

  5. Jansen says:

    Saya juga ingin sekali pulang ke Indonesia lebih tepatnya Bandung. Saya sudah lama di Amerika tepatnya semenjak SMP.
    Kehidupan di Amerika kadang sangat stres. Walaupun saya cukup mapan dengan gaji baik sebagai insinyur.
    Kadang kalau saya stres, saya menutup mata membayangkan waktu saya kecil bermain dengan adik dan sepupu, berjalan di sawah, main di atas kendaraan stem yg terbengkalai. Atau perjalanan ke Pantai tanjung Merak? (Benar tidak yah namanya) atau istirahat di Puncak on the way ke Jakarta makan nasi ayam sembari melihat kebun teh waktu mengunjungi sanak saudara pada hari raya Imlek. Stres bisa hilang….

    Walaupun saya Chinese descendant, saya cinta Indonesia baik dari segi baik dan buruknya. Ketika pensiun saya akan kembali ke Indonesia dan menikmati hari akhir saya disana. Teman teman Indonesia saya disini biasanya kaget mengenai ucapan saya ini. Tapi memang hati saya di Indonesia.

    Untuk expatriat Indonesia di negara lain yang rindu tanah air, coba dengarkan lagunya INdra Lesmana “Impian Khatulstiwa”. Bagus sekali dan menitikan air mata.

    Note: Maaf bahasa Indonesia begitu kacaunya!

  6. mas joko says:

    Saya engineer di Eropa, dari sekolah master sampai bekerja di Eropa terus, point 5 itu bener banget. Kenyamanan batin.

    Di Eropa, saya cuman seneng sama kebersihan, udara yang dingin dan hijaunya pemandangan. Tapi disini saya tetap merasa warga kelas 2, walaupun saya bekerja sebagai engineer dan punya gelar PhD dari engineering school yg cukup ternama. Bentuk diskriminasi itu sangat subtle, tapi sangat berpengaruh ke jenjang karir dan kehidupan sehari-hari.

    Di Indonesia saya bahagia,saya dulu terlahir sebagai orang miskin,tapi saya happy, makan warteg tiap hari dan tinggal di kost kecil di gang saya happy…. di Indonesia itu bekerja dan berbisnis apa saja bisa jadi duit…. kalau kita kreatif dan punya banyak teman… di Indonesia saya dulu bisa sekolah sarjana di PTN padahal ayah ibu cuman pedagang nasi uduk. Saya dapat beasiswa dari kampus, juga ngajar2 dan bikinin software buat anak2 PTS, dan dulu zaman kuliah saya sudah bisa beli Tiger, jam G-Shock dan jeans Levis…

    Lulus sarjana, bikin usaha macem2; mulai dari training IT sampai software house sampai bimbingan skripsi sampai HP isi ulang, jadi dosen di PTS-PTS swasta, ngajar dan riset di lingkungan yang santai…… semuanya menghasilkan duit dan kepuasan batin..hidup happy, ..relax… Hidup itu enak di Indo asal gak ikut politik, politik kantor dan negara…

    Bisnis aja….apa aja bisa didagangin di Indo, isi otak juga bisa didagangin kalo gak punya modal. Hanya orang idiot aja yang mengeluh gak punya modal.

    Di Eropa, saya cuman jadi engineer. Orang suruhan. Semua orang disini seperti robot. Kaku dan tidak hidup. Hidup cuman bekerja, pulang, kawin, cerai, pensiun, mati. Tidak ada dinamisme. Semua orang sama, semua orang uniform. Hidup begitu monoton dan terprogram, tidak ada tantangan.

    • I can’t agree more with you, brother!
      Maka itulah yang membawa saya kembali pulang ke Indonesia, bukan sebagai manusia kalah tapi sebagai manusia yang penuh optmisme berkarya di negeri sendiri. Salam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s