Mengapa pengajaran sains di universitas kita hanya mencetak sedikit ilmuwan. Sebuah saran minor

Ini era internet, ini jamannya banjir informasi, ketiklah sebuah frasa di halaman kanjeng eyangGoogle” dan tekan tombol Enter, maka ribuan jawaban akan tampil dalam beberapa kejap mata saja. Tapi ini jaman kini!

Masa-masa sebelum 1995 bisa dikatakan sebagai masa paceklik informasi bagi pelajar. Peluang untuk mendapatkan pengetahuan (khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi) di luar kelas bisa dibilang amat terbatas jika kita tidak ubek (ulet) mencarinya di perpustakaan kampus (yang sering kali koleksi bukunya sudah kadaluarsa dan terbatas jumlahnya). Tapi tulisan (opini) ini tidak hendak memuja-muji benda intangible (tak kasat mata) yang bernama internet atau tidak bermaksud menyalahkan keadaan yang serba mepet terbatas tadi. Tidak!. Tulisan singkat yang bersumber dari pengalaman subyektif penulis ini bermaksud ingin mengundang pembaca untuk berdiskusi demi pembelajaran yang lebih baik (semoga).

Pengajaran (bukan pendidikan yang memiliki makna lebih luas) ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) khususnya kimia (karena penulis mendalami kimia) di tingkat universitas  bisa hanya berakhir menjadi sebuah kenangan tanpa kesan karena dibawakan dengan gaya ortodoks (papan, kapur dan kelas), tidak timbal balik dan tidak menggugah rasa ingin tahu. Akibatnya, ketika si penerima ilmu tersebut mentas dari universitas, mereka kurang memiliki “sense of science” alias kepekaan terhadap ilmu yang digelutinya.

Sebenarnya menurut pandangan penulis, dosen adalah agen paling utama yang berperan dalam alih pengetahuan (walaupun semangat intrinsik si mahasiswa dalam belajar tetap mutlak penting). Sekarang mari berandai-andai, si mahasiswa sudah siap menerima transfer pengetahuan, tapi mereka masih membutuhkan sesuatu yang disebut “initiation” atau tahapan pemicuan. Nah, disinilah kunci untuk berharap bahwa proses pembelajaran akan berlangsung efektif atau tidak, menyenangkan atau tidak, memikat minat siswa atau tidak dan seterusnya, hingga pada akhirnya si siswa ingin terjun, menyelami lebih dalam, lebih dalam, dan semakin dalam pengetahuan tersebut.

Ketimbang berbicara tentang sesuatu yang abstrak, pada tulisan kali ini akan diberikan sebuah contoh kasus sebagai ilustrasi nyata tahap pemicuan tadi dan cara-cara alternatif yang bisa digunakan untuk menjawab tantangan di atas.

Di sebuah kelas yang membahas topik thermodinamika, misalnya menentukan kelarutan gas di dalam cairan pada tekanan normal 1 atmosfer dengan merujuk pada hukum kesetimbangan uap-cair dan konsep pV = nRT dengan pendekatan persamaan virial. Dalam proses pembelajaran model konvensional, diyakini bahwa si siswa akan berpikir semua nilai-nilai untuk variabel tersebut mudah saja diperolehnya (mungkin mereka mengira, cukup dengan melihat tabel lalu memasukkan bilangan-bilangan ke dalam persamaan dan………..wwhhoollaaa, diperoleh sebuah nilai kelarutan gas). Tapi perhitungan yang tampak sederhana itu sebenarnya membutuhkan usaha yang sangat besar dan hal ini tidak pernah disadari oleh siswa sebelum mereka mengalami sendiri saat berhadapan dengan pekerjaan penelitian.

Untuk memantapkan pemahaman siswa dan membawa mereka lebih dekat pada kenyataan (agar nantinya mereka memiliki pijakan penalaran yang cukup ketika masuk di dunia penelitian), kita perlu menggunakan beberapa alat bantu atau “tools” (saya sebutkan 3 saja) dan kreatifitas dalam menyampaikan bahan ajar.

Apa saja alat bantu atau peraga yang bisa digunakan?

1. Ambilah beberapa pustaka tambahan di samping buku pokok dari publikasi-publikasi ilmiah.
Disamping internet sebagai sumber tambahan informasi yang mumpuni, artikel ilmiah dapat memberikan gambaran realistis kaitan antara teori dan praktek sehingga siswa langsung bisa membayangkan sebuah proses penelitian. Dari jurnal ilmiah, siswa mendapatkan pengetahuan tentang teknik percobaan dan analisis. Demikian pula pada bagian pendahuluan, senantiasa disebutkan latar belakang sebuah penelitian dilakukan sehingga siswa diharapkan bisa memahami nilai penting proses penelitian tersebut. Pada tahap inisiasi, para siswa ditantang untuk mencari sumber-sumber pustaka terkait dengan suatu topik dan membimbing mereka menemukan logika proses penelitian.

2. Ruang laboratorium (laboratorium kimia maupun komputasi)
Geserlah tempat duduk menuju ruang laboratorium dan ajak siswa melakukan percobaan kecil atau demonstrasikan sebuah proses sementara teori diberikan. Cara ini lebih efektif karena adanya sinergi antara teori dan kenyataan praktek ketimbang memberikan sebuah konsep dan membiarkan siswa melakukan praktikum yang sering kali tidak ada kaitan langsung dengan teori yang sudah diperoleh.

3. Internet
Tidak bisa disangkal lagi inilah alat bantu pembelajaran yang sangat banyak manfaatnya. Konsep E-learning juga lahir dari teknologi ini. Untuk sebuah materi teoritis, kombinasi di ruang kelas dan informasi dari internet sudah cukup memberikan ribuan informasi kepada siswa.

Mari kembali ke sebuah contoh kasus di atas yaitu menghitung kelarutan gas di dalam cairan. Siswa harus paham bahwa untuk mendapatkan nilai-nilai konstanta, misalnya konstanta hukum Henry (sebuah konstanta yang menyatakan nilai kelarutan gas akibat interaksi fisika belaka), membutuhkan percobaan yang tidak sederhana (alat dan persamaan matematika), dan membutuhkan ketelitian tinggi. Suatu korelasi bisa dibangun dari data-data mentah yang kemudian dinyatakan oleh persamaan matematis. Seringkali data mentah tampak tidak memiliki keteraturan atau kecenderungan, tapi dengan menggabungkan dan memanipulasi beberapa model matematika (yang bisa diperoleh dari buku, jurnal ilmiah, maupun internet), maka sebuah seri data bisa memiliki keteraturan sehingga bisa memberikan sebuah kesimpulan ilmiah. Konfrontasi atau penalaran baru terhadap konsep lama sering kali bisa ditemukan dalam aneka publikasi ilmiah.

Peran seorang pengajar atau dosen sekarang menjadi semacam moderator yang menggiring dan membimbing siswa menemukan sendiri penalaran ilmiah sehingga demikian seterusnya semakin lama siswa semakin terasah dan trampil dalam berpikir dan bertindak secara ilmiah. Pada pencapaian fase tersebut, kita bisa berharap setelah siswa lulus dari tingkat sarjana, mereka sudah memiliki cukup bekal untuk menjadi seorang peneliti.

Jelliarko Palgunadi
Penggiat kimia hijau dan cecair ionik

5 comments on “Mengapa pengajaran sains di universitas kita hanya mencetak sedikit ilmuwan. Sebuah saran minor

  1. Hanziya says:

    kata siapa?? banyak kok.. cuman kebanyakan dah stay di luar negeri.. jd gak banyak yg ketauan.. contohnya aza salah satu mentan presiden kita yg kepandaiannya diakui dunia.. bapak BJ Habibi.. ..

  2. iseng says:

    Lha orang habibie emang dari univ di indo ? kan tulisannya pengajaran di universitas kita ( indonesia )😛 … gmn nih mas ato mbak hanziya …

  3. tika says:

    rencananya saya ingin melanjutkan study di korea, bagaimana pendapat anda,,?
    terus bagaimana biasanya mahasiswa indonesia mendapatkan beasiswa ke korea,, mohon di balas,, terimakasih,,

    • Dear Tika, cobalah temukan informasinya pada halaman website organisasi pelajar Indonesia di Korea, gunakan kata kunci PERPIKA untuk mencarinya di mesin pencari google. Salam dan semoga sukses!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s