Budaya kerja di laboratorium kampus, secuil kasus tentang kisah sukses Korea dalam membangun negeri

24 hours a day, 7 days a week” begitu mungkin motto etos kerja masyarakat Korea Selatan, sangat dinamis dan terus berproses. Pencapaian prestasi Korea Selatan (Korsel) khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) hingga seperti sekarang merupakan sebuah kombinasi budaya (gaya hidup), ambisi, perencanaan matang, dana dan fasilitas yang dimiliki bangsa Korsel. Salah satu fragmen kecil yang mungkin menjadi salah satu kunci sukses adalah budaya kerja dan riset di kampus-kampus ketehnikan. Walaupun cerita ini bukan khas milik bangsa Korea saja, karena Jepang, china, Taiwan dan Singapore juga barangkali memiliki keserupaan, namun bagaimanapun juga Korsel mampu mencapai kesetaraan dengan mereka dalam waktu yang lebih singkat.

Perlu diketahui bahwa mahasiswa S1 bidang iptek di Korsel selama ini dapat menyelesaikan studi tanpa harus menulis skripsi. Mahasiswa tingkat akhir cukup mengikuti ujian akhir penentu kelulusan atau ujian komprehensif. Sehingga bisa dikatakan sarjana Indonesia memiliki pengalaman dan pemahaman jauh lebih dalam dibanding lulusan dari Korsel. Tentu kita bertanya, mengapa dengan mutu kelulusan seperti itu, Korsel mampu menjadi bangsa yang unggul? Tak dipungkiri bahwa budaya kerja keras adalah salah satu kekuatan intrinsik bangsa Korsel dalam menghadapi tantangan jaman. Tapi itu hanya sebagian kecil cerita.

Regenerasi dan alih pengetahuan serta keahlian di Korsel sudah berjalan secara alamiah. Lagipula minat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi (S2 atau S3) juga cukup besar. Pendidikan di Korsel termasuk mahal bahkan untuk ukuran kocek masyarakat Korsel pada umumnya, namun hal ini dapat diatasi dengan program-program beasiswa domestik semacam BK21 (Brain of Korea 21) atau sistem research assistantship, dimana mahasiswa mendapatkan stipendium dari dana proyek milik professornya.

Konsep link and match sudah lama diterapkan di lingkungan pendidikan tinggi dan instansi penelitian di Korsel. Para mahasiwa yang mendalami iptek, sejak menjelang lulus S1 dan ingin melanjutkan S2 atau S3 bisa langsung bergabung dengan grup-grup penelitian milik pemerintah (ada lebih dari 25 lembaga penelitian pemerintah) yang memiliki dana besar dan membuka kesempatan seluas-luasnya. Mereka nantinya tidak sekedar belajar teori tapi juga penuh waktu (full time) layaknya peneliti berhadapan dengan segala tetek bengek pekerjaan laboratorium (termasuk mendesain percobaan dan alatnya, merawat dan memperbaiki alat percobaan, serta membuat laporan bahkan publikasi internasional). Semua kegiatan itu (baik di lingkungan grup riset kampus maupun lembaga penelitian), menjadi satu paket yang harmonis didukung oleh komitmen, kepatuhan, dan semangat mahasiswa.

Karakter kerja di laboratorium yang sangat mudah dikenali adalah budaya cepat-cepat alias semua harus dikerjakan sesegera mungkin dan kebiasaan masa tinggal di laboratorium yang panjang (lebih dari 12 jam sehari). Adat ini bahkan bisa dikatakan merata di seluruh daratan Korsel dan mungkin tidak hanya berlaku di lingkungkan kerja bidang iptek. Bagi kita yang awam dan belum pernah merasakan “indahnya” dunia penelitian di Korsel, mungkin gaya hidup seperti ini seolah merenggut kebebasan hidup, tapi anak muda Korsel telah setia menentukan pilihan hidupnya (kehidupan yang sangat kompetitif termasuk salah satu keadaan yang memaksa mereka menjalaninya). Kiranya budaya ini mulai diterapkan di Indonesia, apakah bakal membawa perubahan besar bagi bangsa kita? Saatnya kita merenungkan dan ambil inisiatif untuk memulainya.

Jika mata ingin bicara

4 comments on “Budaya kerja di laboratorium kampus, secuil kasus tentang kisah sukses Korea dalam membangun negeri

  1. nice info, semoga bisa jadi pemacu kinerja masyarakat kita

  2. debby says:

    haha..budaya cpt2.lucu bgt to kedengeranny..eh mas.ada jg tmn2 kita yg ‘beruntung’ ga mst tinggal d lab sampe larut mlm. Sbnrny tanpa tekanan dan paksaan itu,apakah mas pkr budaya ngelab ini bs jalan??
    gila ga si mas,aku msh inget si bos telp k lab ku jem 00.30!!ngecek ada org ato ga.ngecek jong min ada d lab ato ga.ahyu..

    • Trima kasih debby,
      Sebenarnya tidak perlu sampai harus dilakukan pengawasan ketat, karena begitu kita memilih sebagai mahasiswa tingkat lanjut dan menerima tanggung jawab, seharusnya sudah muncul itikad untuk bekerja dengan baik dan menyelesaikan tugasnya. Sekarang tinggal cara bagaimana professor memonitor perkembangan mahasiswanya. Aturan harus ditegakkan tanpa disertai paksaan. Aku lihat di Eropa seperti itu prosesnya. Salam….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s