Karbon dioksida, perspektif baru gas rumah kaca (bagian 1 dari 3 tulisan)

Pikiran sebagian ilmuwan dunia kini diarahkan pada besarnya buangan gas karbon dioksida (CO2) terhadap kelangsungan nasib bumi. Dalam beberapa dasawarsa terakhir ini konsentrasi CO2 yang beredar di permukaan bumi telah meningkat tajam. Perlu diingat adalah CO2 hanyalah salah satu komponen gas rumah kaca disamping gas methan (CH4) dan gas-gas chlorofluorokarbon (CFC). CO2 menjadi topik paling hangat karena konsentrasinya meningkat secara exponensial seiring dengan proses industrialisasi, sedangkan CH4 biasanya diproduksi alamiah (dari proses pembusukan material organik). CFC sendiri produksi dan pemanfaatannya sudah jauh berkurang. disamping itu, pemanfaatan CO2 yang dijerap dari cerobong-cerobong industri sungguh menantang alam pikir dan memiliki masa depan ekonomi.

Sekilas statistik CO2

Berbicara sedikit statistik, mari kita lihat data dari Netherlands environmental Assesment Agency. Disebutkan bahwa, ada lima negara yang menjadi penyumbang terbesar buangan CO2, yaitu China, India, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Russia. Sumber buangan CO2 yang terpenting adalah hasil dari pembakaran bahan bakar fosil (industri maupun pembangkit listrik) dan proses produksi semen.

Dari grafik di bawah ini dapat dilihat prosentase kenaikan masing-masing gas rumah kaca (termasuk CO2) semenjak tahun 1970 hingga 2004.

greenhouse-gas-chart

Sumbangsih CO2 mencapai 75% (atau setara dengan 45.000 megaton CO2) dari seluruh kenaikan emisi gas rumah kaca (termasuk methana, nitro oksida, dan gas-gas CFC).

Indonesia juga disebut-sebut penyumbang pemanasan global terbesar nomor tiga setelah China dan Brazil karena gagal menjaga hutan tropisnya dari kerusakan. Karbon netral yang terkandung dalam hutan tropis (pepohonan dan tanah gambut) telah terkonversi menjadi CO2 dan terlepas ke udara akibat dari pembukaan hutan dan pengolahan hasil hutan yang tidak terkendali.

Penelitian tentang CO2

Kecenderungan penelitian terhadap pengurangan, penangkapan, maupun pemanfaatan CO2 dapat dilihat dari hasil-hasil penelitian terkini di forum-forum ilmiah tentang CO2, gas rumah kaca, dan teknologi bersih. Rangkaian tulisan ringan ini akan mengupas masalah tersebut satu persatu.

Penjerapan dan penyimpanan CO2

Sasaran utama sistem penjerapan CO2 adalah buangan CO2 hasil pembakaran batu bara dari pembangkit listrik, karena merupakan salah satu penyumbang terbesar konsentrasi CO2 antropogenik di atmosfer.

ada tiga kemungkinan proses penjerapan CO2 yang terintegrasi dengan sistem pembangkit listrik bahan bakar batu bara, yaitu Post-Combustion system, Pre-Combustion system, dan Oxy-Combustion (lihat diagram berikut ini).

diagram-power-plant-combustion

Masing-masing sistem memiliki karakteristik buangan CO2 yang berbeda, misalnya pada sistem Post-Combustion, konsentrasi gas CO2 hanya kisaran 3-15% pada tekanan atmosfer dan sisanya sebagian besar adalah nitrogen (campuran gas ini disebut flue gas). Sedangkan pada Pre-Combustion system, gas CO2 panas (400 oC) dengan konsentrasi mencapai 40% bertekanan lebih dari 60 atmosfer dihasilkan dari proses pembuatan syn gas.

Beberapa waktu belakangan ini diusulkan untuk menimbun CO2 di kedalaman bumi dengan cara menginjeksikan CO2 ke dalam semacam reservoir (sink) alam (menurut data di Amerika Serikat, 1120 hingga 3400 milyar ton CO2 dapat dimampatkan di bawah permukaan daratan Amerika Serikat), atau menginjeksikannya pada sumur-sumur minyak bumi demi memompa keluar semakin banyak minyak bumi (enhanced oil recovery, EOR), atau menginjeksikan CO2 pada Coal Bed Methane (CBM) untuk memompa keluar cadangan gas methan. namun semua itu membutuhkan teknologi penjerapan dan pemisahan CO2 yang mumpuni (handal) dan ekonomis sebelum proses penyimpanan.

Pustaka

1. J.D. Figueroa, T. fout, S. Plasynski, H. McIlvried, R.D. Srivastava Int. J. Greenhouse Gas Ctr. 2 (2008) 9-20.

2. Netherlands environmental Assesment Agency

3. Singapore Institute of International affairs

Jika mata ingin bicara

One comment on “Karbon dioksida, perspektif baru gas rumah kaca (bagian 1 dari 3 tulisan)

  1. Musicool says:

    Untuk mengurangi pemanasan global, mari kita kurangi CO2, baik dari kendaraan bermotor, listrik, ataupun industri. Saya membaca satu poster di salah satu industri elektronik besar di Bekasi, bahwa “setiap penghematan listrik 1 KWh = pengurangan CO2 sebesar 0,712 Kg”, berarti setiap orang bisa ikut aktif dalam mengurangi pemanasan global, paling tidak dengan menghemat pemakaian listrik setiap bulannya.
    Dari manakah penghematan signifikan yang bisa kita dapat? Menurut penelitian yang dilakukan oleh salah satu BUMN di gedung2 komersial, pemakaian mesin pendinginlah (AC, chiller) yang paling besar memakai daya listrik, sekitar 60-70% dari seluruh tagihan listriknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s