Melirik Dinamika Evolusi Inovasi Teknologi Korea Selatan

 

Terinspirasi dan ingin menyambung ulasan Saudara Ninok Leksono yang berjudul Harteknas: ”Low-Tech” Vs ”Hi-Tech”, Kompas, Rabu 15 Agustus 2007, sekaligus mengenang HUT kemerdekaan Korea Selatan yang secara kebetulan hanya berselisih dua hari dengan kemerdekaan Indonesia, maka tulisan ini ingin sekelumit menguak kebijakan dan perkembangan inovasi teknologi Korea Selatan yang mungkin bisa mencerahkan para pengampu kebijakan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi nasional.

Korsel nyata-nyata telah berhasil memerdekaan dirinya dari belenggu kemiskinan ilmu pengetahuan dan ketidakmampuan teknologi. Tak diragukan, Korsel telah menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan dalam waktu sekitar 30 tahun telah beralih menjadi negara industri. Suatu proses yang lumayan singkat ditandai sejak dicanangkannya Rencana Pembangunan Ekonomi Lima Tahun pada tahun 1962 yang perlahan namun pasti meningkatkan nilai ekspor dan GNP.

Karakteristik inovasi iptek Korea Selatan

Mengingat kaitan langsung antara industrialisasi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), maka boleh dikatakan perkembangan industri di suatu negara merupakan cerminan dari perkembangan inovasi iptek. Sedangkan Korsel justru memiliki karakteristik terbalik yaitu perkembangan inovasi merupakan cerminan dari perkembangan industri. Dengan demikian bisa dikatakan industri Korsel tumbuh lebih dahulu kemudian menyediakan acuan bagi arah perkembangan inovasi teknologi. Kecenderungan ini mungkin agak serupa dengan Jepang maupun Taiwan yang melakukan lompatan industri kemudian mencoba mengurai ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi pijakan industri tersebut.

Perlu ditekankan pula model pengambilalihan atau akuisisi teknologi demi industrialisasi dimulai dengan kebijakan alih teknologi dari luar. Korsel memiliki dua tujuan dalam program ini yaitu, memulai proses alih teknologi dari luar dan meningkatkan kapasitas daya serap domestik dalam hal mencerna, memodifikasi dan mengembangkan teknologi asing. Pada saat itu Korsel hampir secara keseluruhan bergantung pada teknologi dari luar.

Perlu dicatat dalam hal ini adalah pola kebijakan penggunaan lisensi asing (foreign licensing) dalam menjalankan praktek akuisisi teknologi asing, berbeda dengan cara beberapa negara di kawasan Asia Tenggara yang menerapkan kebijakan investasi asing langsung (foreign direct investment). Tentu saja penggunaan foreign licensing bukanlah yang dominan karena pada saat awal Korsel tegak kembali, dia tidak cukup memiliki uang untuk membeli lisensi asing. Disamping itu, Korsel mendapat keuntungan berupa pembelajaran teknologi, penataan produksi maupun pembuatan barang-barang orisinil yang diperoleh dari pembelian lisensi asing untuk industri ringan pengganti barang-barang impor.

Karakteristik yang juga unik adalah tumbuh dan berkembangnya berbagai lembaga ilmu pengetahuan dan teknologi nasional yang menjadi inkubator atau lembah silicon ala Korsel.

Evolusi inovasi iptek di Korea Selatan

Korsel juga menderita segala kekurangan setelah dijajah Jepang.  Selepas perang saudara, modal awal yang dimiliki Korsel adalah lembaga penelitian dan pengembangan pertahanan nasional dan badan penelitian energi atom yang didirikan tahun 1959. Pada tahun 1960-an Korsel mulai belajar dari negara lain terutama Amerika Serikat dalam mengembangkan riset bidang industri ringan. Pada periode 1970 an, Korsel mulai berkonsentrasi pada pengembangan industri mesin dan industri kimia. Pada periode tersebut pemerintah Korsel mendirikan badan riset pemerintah (Government Research Institute, GRI) dalam bidang permesinan dan kimia.

Sementara kita sekarang sedang mengalami fenomena ”brain drain” (Brain Drain ke Negara Maju Terus Meningkat, http://www.detik.com, 20 Juli 2007), Korsel semenjak tahun 1970-an sudah mencoba mengantisipasi keadaan tersebut. Pada masa tersebut, bermacam-macam lembaga riset didirikan (ditandai dengan berdirinya Korea Institute of Science & Technology pada tahun 1966), dengan berbagai kekhususan bidang penelitian demi membantu industri menyerap dan menerapkan teknologi. Lahirnya pusat-pusat penelitian tersebut (kini tak kurang dari 22 lembaga riset bekerja secara sinergis) mengundang kembali para ilmuwan yang tersebar di berbagai negara lain untuk memberikan sumbangsih pikiran dan tenaga membantu kalangan industri dalam menerapkan teknologi baru disamping itu mengembangkan kemampuan bidang teknologi ala Korsel. Walaupun demikian, uniknya baru pada periode 1980-an Korsel mulai terlihat aktif dan serius mengembangkan inovasi riset asli bangsa sendiri. Jika dihitung hingga masa sekarang, maka 20 tahun waktu yang diperlukan oleh Korsel untuk mencapai keadaan seperti sekarang boleh dikatakan bukan evolusi melainkan revolusi.

Faktor umum penggerak evolusi iptek Korea Selatan

Terlepas dari masalah peran Amerika Serikat yang demikian besar di masa awal pembangunan kembali korsel setelah perang saudara, (presiden Science & Technology Policy Institute, STEPI Korea Selatan sempat menunjukkan ekspresi ketidaksenangan ketika menanggapi pernyataan ini dalam sebuah seminar), namun Korsel sendiri sesungguhnya juga mencanangkan program riset dan pengembangan ala Korsel yang disebut “Indigious R&D for Technological Competitiveness”. Program ini mulai aktif semenjak tahun 1980 disaat pertumbuhan industri Korsel semakin pesat dan kompleks dan negara-negara maju yang sebelumnya adalah rekanan bisnis mulai memandang Korsel sebagai pesaing kuat.

Secara umum, faktor-faktor yang telah mempengaruhi perkembangan inovasi iptek Korsel adalah penerapan secara sinergis strategi pemerintah dan kaum industriawan untuk senantiasa mencari sumber-daya, pasar maupun teknologi di luar Korsel (outward looking), kebijakan pembangunan dengan target industrialisasi, kebijakan dengan orientasi industri besar, tersedianya sumber daya manusia yang memadai, dan pembangunan infrastruktur iptek yang dimotori oleh pemerintah. Tak pelak kekuatan menonjol dari perkembangan inovasi Korsel adalah komitmen kuat pemerintah terhadap pengembangan iptek berbasis teknologi nasional ditunjukkan dengan membidani lahirnya puluhan pusat riset yang menjadi tenaga penggerak alias driving force bagi dinamika evolusi perkembangan iptek Korsel.

Disarikan dari presentasi kuliah umum tentang kebijakan inovasi teknologi di Korea Selatan oleh presiden STEPI.

Jelliarko Palgunadi

Alumnus Pelajar di Korea Selatan

Tautan luar:

Belajar dari Korea Selatan dalam Kompas edisi cetak

4 comments on “Melirik Dinamika Evolusi Inovasi Teknologi Korea Selatan

  1. Hadi says:

    Terima kasih ni buat tulisannya yang informatif dan mengalir. Kebetulan saya sedang tertarik kebijakan teknologi di Korea. Boleh yaa saya kutik tulisannya. Oya harusnya di kirim ke media cetak … atau udah dimuat. salam kenal.

  2. Herlina says:

    nice info. boleh ya saya copas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s