Menyambung kisah kertas dari rumput laut

Negeri Kepulauan yang Lupa Jati Dirinya…

Kini di dunia hanya dua negara yang menyisakan hamparan hutan terbesar, yakni Brasil dan Indonesia. Brasil punya hamparan hutan terluas yang berada di cekungan Amazon, sementara Indonesia di Kalimantan dan Papua.

“Beberapa tahun mendatang, ketika Brasil selesai membangun highway menembus Amazon, luas hutan menyusut. Kayu sebagai bahan baku kertas pun menipis,” kata You Churl H, warga asal Korea Selatan.

Majalah National Geographic edisi Januari 2007, yang menurunkan laporan Serpihan Terakhir Amazon, menunjukkan Trans-Amazon Highway dan jalan BR-163 sepanjang 1.770 kilometer dari Mato Gross ke Santarem di Para, perlahan hancurkan hutan Amazon seluas 477,698 juta hektar (2005) dengan laju 3,1 juta ha per tahun.

Bagaimana di Indonesia? Dengan luas hutan 120 juta hektar, Departemen Kehutanan memetakan, periode 2000-2005, angka deforestasi hutan Indonesia mencapai 1,18 juta hektar. Memang angka deforestasi lebih rendah daripada Brasil, tetapi luas hutan kita lebih kecil

Hutan terus terdegradasi, tetapi kita sering lupa, Indonesia tidak hanya hutan. Mantan Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan bahwa lautan Indonesia lebih luas dan hanya orang yang tidak dapat membaca peta yang lupa. Melalui Deklarasi Djoeanda, laut Indonesia mencakup 5,8 juta kilometer persegi, yang merupakan tiga per empat luas Indonesia. Terdapat lebih 17.500 pulau dan dikelilingi 81.000 kilometer garis pantai, sebagai garis pantai terpanjang kedua di dunia.

“Laut Indonesia luas, beriklim tropis sehingga rumput laut tumbuh dan dipanen sepanjang tahun. Karena itu, saya datang,” ujar You masih dengan mimik serius. Dia memperlihatkan peta Google Arts di laptop. Memperbesar citra bola dunia jadi Indonesia, jadi Bali, lalu jadi Nusa Lembongan.

Tampak bangunan di Nusa Lembongan, yakni rumah, kantor, hingga bungalow. Hebatnya, dari citra yang diolah jadi tiga dimensi, terlihat budidaya rumput laut di pesisir hingga kedalaman 10 meter yang dibidiknya untuk dijadikan ladang rumput laut merah.

You orang Korea, tetapi berkat teknologi, malam itu dia menggurui Kompas tentang potensi lahan pesisir Indonesia. Kompas pun menduga—lagi-lagi berkat teknologi—You telah “memata-matai” potensi Indonesia sebelum menginjakkan kaki di negeri ini. Vietnam, Thailand, China, Jepang, Filipina, Meksiko, Amerika, dan Australia ternyata telah disambangi You, tetapi Indonesia lokasi budidaya terluas, dengan kondisi iklim terbaik bagi perkembangan rumput laut merah.

“Negara ini berpotensi besar, tetapi belum digarap. Tidak kurang 120.000 hektar, dapat dibuat ladang rumput laut,” ujar You.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan Made Nurjana, yang ditemui terpisah di Kuta, Bali, mengoreksi You. Made mengatakan, lahan rumput laut 120.000 hektar merupakan data usang. “Saya yakin potensinya lebih besar sebab rumput laut dapat hidup di Karawang dan Pelabuhan Ratu,” ujar Made.

Spesies unggul

Secara umum, budidaya rumput laut dikerjakan pada perairan berkedalaman 5-15 meter, dengan tingkat keasaman 6 sampai 9 pH, dengan suhu air sekitar 20-28 derajat Celsius. You dan koleganya, Grevo dari Universitas Sam Ratulangi, bukan saja mencari lokasi budidaya, mereka pun mencari spesies rumput laut terunggul di Indonesia sehingga produksinya maksimal.

“Kami masih mencari spesies rumput laut merah lainnya. Kami yakin ada yang pertumbuhan massanya lebih besar, pernah ketemu tapi mati,” kata Grevo. Kini, Grevo dan You pun mondar-mandir di perairan Bali dan Lombok mencari spesies unggul itu.

Di Korea sebenarnya ada rumput laut merah Gelidium amansii. Namun, karena Korea subtropis, maka panen rumput laut hanya dua bulan, yakni Mei-Juni. Sementara di Indonesia, rumput laut merah Pterocladia lucida dapat panen sepanjang tahun.

Sejak Oktober 2006, masyarakat Nusa Lembongan dilibatkan membudidayakan Pterocladia lucida, sedangkan di Lombok mulai Februari 2007. Lokasi itu dipilih karena masyarakat setempat terbiasa tanam rumput laut, meski jenis cotonii yang tidak berserat.

Ketika tahun depan You membangun pabrik kertas percontohan di Bali, diharapkan bahan baku datang dari dua lokasi itu. Berapa investasi untuk pabrik itu? You tersenyum simpul, menunjukkan foto putra seorang taipan ternama Indonesia. Dikatakannya, putra sang taipan akan mendanai usaha You.

Negara kepulauan ini memang lupa jati dirinya. Kita yang mengaku bernenek moyang pelaut lalai sehingga You—pria Korea itu—yang pegang paten atas produksi kertas dari rumput laut yang tumbuh subur di perairan negeri ini. Perairan yang selama ini kita “belakangi” akibat lenyapnya visi kelautan. (ryo)

Kompas media cetak, Humaniora 23 Juli 2007

4 comments on “Menyambung kisah kertas dari rumput laut

  1. meicorpz says:

    artikel ini bagus loh mas, dirimu pernah baca nggak bahwa ada orang yang ngembangin selulosa murni yang pernah dimuat di kompas juga namanya bung Maxentius Umbu, kayaknya dia juga bikin bubur kertas juga… tapi kurang tahu apa kadar toxin nya masih diatas rumput laut (sepertinya sih iya)… mohon diinfo mengenai artikel ilmiah ke emailku di elegantiz@gmail.com. makasih ya mas…..

  2. Sepertinya saya pernah membaca tentang kiprah pak Maxentius di Kompas pada rubrik Tokoh. saya sempat mengabaikan berita itu tapi sekarang terpikir kembali, karena ternyata orang Indonesia bisa menjadi perintis penelitian. Sayang sungguh sayang, peneliti di Indonesia masih kurang memahami HAKI dan tidak suka membuat reportase di publikasi ilmiah internasional, sehingga gaung riset tersebut tak pernah menggebrak minat investor atau pemerintah untuk mendanai. Jika dek meicorpz tertarik untuk berdiskusi, silahkan jangan sungkan tuk kontak lagi, terutama jika ingin bergiat melakukan penelitian dengan bahan baku aseli dari bumi indonesia.

  3. SAYA TELAH MENEMUKAN RUMPUT LAUT MERAH YANG BENTUKNYA PIPIH SEPERTI KERTAS DAN LEBAR. BERADA DI DASAR LAUT.
    APABILA BERMINAT HUBUNGI SAYA DI 08121713016.

  4. solvapotter says:

    saya jual CD cara budidaya rumput laut yg benar, hanya dgn harga 50 ribu/CD. jika berminat silahkan hub.saya di 081-911857815 atau email rozi679@gmail.com.

    terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s