Inovasi material kertas dari lulusan sastra

Ilmu sastra menyatra memang tak bisa ingkar dari pentingnya peranan kertas. Tak perlu dijelaskan panjang lebar, penyair, pena dan kertas bagaikan pemburu dengan alat panahnya. Jebolan fakultas sastra juga bukan berarti hanya bisa menggunakan kertas. Seorang alumnus fakultas sastra dari Korea Selatan menemukan ide membuat kertas dari bahan baku non kayu dan sungguh mewujudkannya melalui kerja sama penelitian dan dukungan dana memadai. You Churl H, dengan percaya diri mengatakan, “No more cutting trees for paper, tidak ada lagi penebangan pohon untuk membuat kertas. Kami akan produksi kertas dari rumput laut merah.” Rangkaian cerita berikutnya bisa disimak dari berita di halaman Humaniora, Kompas 23 Juli 2007 berikut ini,

Kertas dari Rumput Laut, Mengapa Tidak?

“No more cutting trees for paper, tidak ada lagi penebangan pohon untuk membuat kertas. Kami akan produksi kertas dari rumput laut merah,” ujar You Churl H, asal Korea Selatan, dengan mimik muka serius.

Perjumpaan sekaligus perkenalan dengan You terjadi tanpa sengaja pada awal Mei 2007. Ketika itu speedboat yang kami tumpangi berpapasan di perairan Nusa Lembongan, Bali (sekitar 45 menit ber-speedboat dari Pantai Sanur).

Kala itu, You bersiap menyelam untuk mengambil sampel rumput laut di perairan berkedalaman lima meter. Sementara kami berhenti sejenak, melihat rumput laut dari permukaan perairan Nusa Lembongan yang jernih.

Malam harinya, di sebuah hotel di Kuta, You—lelaki tambun berpotongan rambut crew-cut itu—menyodorkan secarik kertas. Kertas itu putih bersih. Ketika diraba permukaannya halus, seperti kertas mahal, yang dipakai majalah Time.

You berpendidikan sastra. Sebelum menggeluti rumput laut merah, dia punya perusahaan perangkat lunak. Namun, tiga tahun lalu, ketika agar-agar yang akan disantapnya sebagai bagian diet jatuh di lantai dapur, orientasi hidupnya berubah.

“Saya lihat ceceran agar-agar itu mirip bubuk kertas. Mengapa tidak dibuat kertas?” ujarnya. Dia hubungi berbagai instansi dan peneliti. Beruntung, You hidup di negara dengan pemerintah yang mendukung inovasi sehingga dibantu penuh dengan arahan para ahli.

Kini hak paten atas namanya, tentang proses produksi kertas dari rumput laut merah (Gelidium amansii dan Pterocladia lucida), terdaftar di Korea dan Amerika sejak tahun 2003. Dia masih menunggu paten serupa di 45 negara, termasuk paten dari Indonesia.

Proses pembuatan

Proses pembuatan kertas dari rumput laut tidak berbeda daripada pembuatan kertas dari kayu. Ada lima proses pokok, yakni (1) penyiapan bahan baku; (2) pemasakan rumput laut; (3) ekstraksi rumput laut; (4) pemutihan; dan (5) pencetakan.

Secara umum, proses produksi dimulai dari panen rumput laut merah, kemudian dijemur, dibersihkan, dan dipotong-potong. Lalu dimasukkan dalam tungku dan dimasak pada suhu tinggi (boiling) sehingga keluar ekstrak “inti” berupa agar untuk pangan. Ampas rumput laut— yang telah diambil agar-agarnya—kemudian diputihkan (bleaching) lalu dihancurkan menjadi bubur rumput laut merah (pulp). Bubur inilah yang kemudian diolah jadi kertas.

Akibatnya, operasional pabrik kertas berbahan baku kayu hampir selalu berbenturan dengan kepentingan lingkungan hidup. Tahun 2003, misalnya, pergolakan sosial bahkan terjadi di Sumatera Utara, melibatkan pabrik pulp dan komunitas masyarakat setempat.

Sebaliknya, pengolahan produksi kertas dari rumput laut diproses nyaris tanpa bahan kimia, kecuali pemutihan dengan klorin. Lebih penting lagi, menurut You, hampir tidak ada limbah yang keluar sehingga tidak berdampak bagi kesehatan.

Apakah You sekadar berteori? Tidak! Tahun 2004, di laboratorium produk kehutanan Universitas National Chungnam Korea, You telah membuat bubur rumput laut. Kemudian dia buktikan mampu memproduksi kertas dari bubur ampas rumput laut dengan menyewa pabrik kertas.

Kunci sukses transformasi rumput laut jadi kertas adalah ditemukannya serat atau fiber. Bila kayu mengandung serat selulosa, rumput laut mengandung serat agalosa selebar 3-7 mikrometer dan panjang 0,5-1 milimeter, dengan fleksibilitas tinggi, tiada jejak lignin, dan mengandung substansi perekat cair.

Penelitian

Dari penelitian mikroskop terlihat ukuran dan bentuk serat agalosa lebih homogen, tidak seperti serat selulosa yang bulat, lonjong, atau pipih. Homogenitas ini yang membuat kualitas kertas lebih baik, lebih fleksibel, lebih halus, lebih mudah ditulisi, bahkan dapat digunakan sebagai kertas foto.

Pertumbuhan massa rumput laut merah luar biasa, yakni 5-10 persen sehari. Dengan masa panen 70 hari, pertumbuhan tersebut sangat pesat dibanding pohon sebagai bahan baku konvensional kayu, yang baru dapat dipotong setelah 15 tahun.

“Selain untuk kertas konvensional sebagai sarana tulis, kertas ini juga baik untuk kertas rokok sebab kandungan racunnya sedikit. Ini warta gembira bagi perokok,” ujar Grevo S Gerung, peneliti kelautan Universitas Sam Ratulangi, yang mendampingi You selama di Indonesia.

Di Korea, tiap lembar kertas rokok yang mereka impor dari Eropa mengandung 40 komponen racun, sementara kertas rumput laut merah setelah diuji hanya mengandung 17 komponen racun. “Kertas ini bukan saja dapat dipakai untuk kertas rokok, tetapi berpeluang dipakai untuk kemasan makanan cepat saji seperti Kentucky Fried Chicken,” ujar Grevo.

Kemasan kertas makin berpeluang dipakai di Amerika, yang melarang penggunaan plastik jadi kemasan karena sulit didaur ulang alam. “Bila kertas dari rumput laut merah dapat diproduksi massal, hutan-hutan di dunia dapat diselamatkan. Dampak positif pencegahan penebangan pohon adalah meminimalisasi pemanasan global,” ujar You persuasif.

Menyelamatkan hutan, tinggi nilainya sebab terkait mempertahankan kualitas air, kualitas udara, dan mencegah pencairan dataran es di dua kutub dunia yang dapat menenggelamkan pesisir di berbagai penjuru dunia. Selain kabar positif bagi kelestarian dunia, posibilitas penggunaan rumput laut merah bagi bahan baku kertas juga akan disambut baik industri kertas yang dapat memperoleh bahan baku alternatif di luar bahan baku kayu, yang harganya naik terus.

(reporter: Haryo Damardono).

Kisah yang indah bukan ?!

2 comments on “Inovasi material kertas dari lulusan sastra

  1. anggana says:

    mas haryo, saya ada tugas kuliah mencari inovasi kelautan…
    ide ini boleh gak dikembangkan..

  2. haryo says:

    boleh saja, japri ke haryo98@yahoo.com
    thx sebelumnya buat yg punya blog

    _haryo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s