Jangan bersepeda di kota-kota Indonesia

Jangan bersepeda di kota-kota besar di Indonesia jika tidak ingin muka gosong, nafas sesak dan kemungkinan terserempet mobil atau motor. Ungkapan ini serasa melecehkan para pencinta dan pengguna sepeda di Indonesia. Padahal beberapa waktu terakhir banyak bermunculan kelompok-kelompok pencinta sepeda di kota-kota besar semacam Jakarta, Yogyakarta maupun Surabaya. Tapi kenyataannya memang pemerintah kota kita tidak atau belum memiliki kesadaran untuk memberikan ruang khusus bagi pengendara sepeda (ditunjukkan dengan belum terwujudnya jalur khusus sepeda di seantero kota).

jalur sepeda freiburgCiri khas kota yang humanis dan bersahabat dengan lingkungan salah satunya adalah tersedianya fasilitas khusus bagi kendaraan bebas emisi gas, utamanya adalah sepeda. Terlalu banyak untuk menyebutkan kota-kota besar maupun kecil di Eropa yang telah lama memberikan jalur khusus bagi pengendara sepeda. Seperti kebanyakan kota-kota di Jerman lainnya, salah satu yang bisa disebutkan adalah kota Freiburg di Jerman. Freiburg im Breisgau boleh menyombongkan dirinya sebagai “cosmopolitan cycling city” karena sepeda telah menjadi alat mobilitas yang utama. Dimulai sejak tahun 1970 dengan hanya sepanjang 29 km, kini jalur khusus sepeda telah mencapai kurang lebih 500 km dengan lebar jalur rata-rata 2 meter dilengkapi marka jalan yang jelas. Disamping itu, tak kurang dari 26% populasi warga kota tersebut yang sebesar 220.000 jiwa setiap hari menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Di seantero kota juga disediakan kurang lebih 5000 lokasi parkir sepeda. Jika ditilik dari luas wilayah kota tersebut yang hanya 153.06 km persegi, maka kurang lebih 0.7 % dari luas wilayah kota telah dialokasikan untuk memanjakan pengendara sepeda. Berbeda dengan kota-kota di Republik Rakyat Cina, di sana penggunaan sepeda telah mengakar sedangkan di Freiburg, gerakan cinta bersepeda didorong dan difasilitasi oleh pemerintah kota.

tumpukan sepeda freiburgKonsep dan pelaksanaannya sederhana, setiap jalur pejalan kaki senantiasa berdampingan dengan jalur khusus sepeda dan cukup diberi tanda di setiap jarak tertentu. Sementara itu rambu-rambu yang lain tidak terlalu diperlukan karena setiap anggota masyarakat telah sadar betul fungsi dari setiap jalur. Kontrol diri dari pengguna jalan disamping tegasnya aparat dalam mengawasi pengguna jalan menekan penyalahgunaan jalur khusus sepeda ini misalnya digunakan untuk parkir mobil atau dilalui motor.

Kebijakan pemerintah kota Freiburg yang menjadikan pusat kota sebagai kawasan pejalan kaki semenjak tahun 1973 turut menurunkan populasi kendaraan bermotor yang melewati kawasan itu. Sementara itu di sekeliling kawasan itu disediakan tempat-tempat pemberhentian angkutan umum. Hasil penelitian pemerintah Inggris tahun 1994, menunjukkan bahwa membangun atau merenovasi jalan malah akan meningkatkan arus lalu lintas di lokasi tersebut sementara mengurangi luasan jalan memberikan dampak sebaliknya, sehingga dapat dikatakan bahwa lalu lintas sebenarnya bersifat elastis mengikuti kapasitas jalan yang tersedia. Namun penelitian tersebut belum sampai pada kesimpulan apakah kemacetan memang benar-benar berkurang atau hanya mengalami pergeseran jikalau dibeberapa tempat diberlakukan kawasan bebas kendaraan bermotor.

Idealnya kota-kota kecil dan menengah perlu menjadi pionir pembuatan jalur sepeda menuju dan seputar pusat kota karena tata kota dan jalur lalu lintas belum serumit kota besar. Gerakan sadar bersepeda bisa mulai digiatkan pada karyawan yang berkantor di seputar pusat kota. Gerakan kembali ke sepeda sebagai alat transportasi turut pula mendukung rencana lima kota besar di Indonesia yaitu DKI Jakarta, bandung, Surabaya, Semarang dan Yogyakarta untuk melakukan perbaikan kualitas udara perkotaan. Yogyakarta atau Solo yang secara alamiah memang memiliki sejarah sebagai kota sepeda, kemungkinan jalur khusus sepeda bisa segera diwujudkan. Kendala yang utama adalah terjadinya tumpang tindih pengguna jalur khusus ini, yaitu, sepeda, becak maupun andong. Tapi paling tidak, usaha untuk menjadikan wilayah tengah kota sebagai kawasan bebas kendaraan bermotor perlu dipikirkan.  Menurut kabar terbaru yang dilangsir dari  harian Kompas, Yogyakarta akan mengalokasikan 34 jalur khusus sepeda dan akan segera dibangun pada tahun 2009.  Serupa dengan konsep di kota Freiburg, jalur khusus sepeda ini nantinya akan diberi penanda atau marka sehingga mengurangi tindakan main serobot pemakai jalan lain.  Semoga rencana ini untuk mengembalikan kepopuleran alat angkut ramah lingkungan dan menjadikan Yogyakarta tercinta sebagai  eco-city tidak hanya berakhir sebatas konsep.

gerobak_anak.jpg gerobak_anak2.jpgMengasuh anak usia prasekolah sekaligus melakukan kegiatan sehari-hari semacam berbelanja disiasati oleh pengguna sepeda Freiburg dengan menggunakan gerobak kecil yang khusus dibuat bagi penumpang cilik. Hmm, sepeda sesungguhnya adalah alat angkut yang praktis, menyenangkan dan aman.

Ingin tahu bagaimana nasib kebanyakan sepeda tak bertuan di kota Freiburg? Ya, kurang lebih, nasib mereka berakhir seperti pada foto berikut ini, dijarah perlahan-lahan hingga menyisakan kerangka berkarat.
sepeda_dijarah.jpg

Pemerintah Jerman memang tidak main-main dengan alat transportasi kereta angin. Bahkan untuk mendukung mobilitas manusia sekaligus sepeda kesayangan mereka, gerbong kereta kelas 2 khusus bagi sepeda dan pemiliknya sengaja disediakan. Trayek lintasan kereta listrik ini menjangkau hingga kota-kota besar yang jauhnya lebih dari jarak Jakarta-Bandung.

gerbong_sepeda.jpg

Bila mata ingin bicara

Tautan luar

Seandainya Jakarta punya jalur sepeda

8 comments on “Jangan bersepeda di kota-kota Indonesia

  1. ndang says:

    kayana enak kalwa ada jalan khusus sepedah

  2. ndang says:

    kita do;akan bareng bareng secepatnya di bandung di sediakan jalan khusus sepeda…

  3. Biarpun tanpa jalur khusus sepeda, tetap dong, gairah bersepeda digalakkan biar benar-benar terasa manfaat sepeda bagi kesehatan badan dan lingkungan. Ayoo hebat BBM dan kurangi polusi dengan “hanya bersepeda” !!

  4. SLM says:

    Coba ada gerbong khusus sepeda

  5. sarwestu widyawan says:

    Iya mas, saya pernah bersepeda dari UGM menuju UMY (daerah gamping – ring road barat selatan) Jogja pp, kesimpulanku setelah genjot sejauh itu adalah jantung kita sehat tapi paru paru kita jadi cepet bosok !!!
    mengapa demikian, karena jalur transportasi sepeda di jogja masih di dominasi oleh kendaraan bermotor (motor, mobil, truk, bis ) dan hebatnya masih buanyak (dan mungkin malah buanyak sekali) bis bis dan truk truk yang mengeluarkan asap hitam se hitam kasus BLBI…
    tak jarang saya misuh misuh karena asap mereka itu, sungguh mereka sangat tidakperduli dengan asap yang mereka buat, padahal dulu ketika saya masih sekolah (tahun 70 – 80 an) jogja sangat dikenal dengan sebutan “kota sepeda”, kini sebutan itu tinggal kenangan,
    bahkan guyon saya pada teman teman B2W di kantor yang sepedannya memakai logo B2W, saya komentari jika sebenarnya tidak tepat memakai logo itu di sepedanya, karena yang lebih cocok adalah mereka yang profesinya tukang batu atau mbok mbok pedagang pasar beringharjo yang setiap harinya dari daerah Bantul nggenjot sepeda

  6. W@ti says:

    Sejak balik Indo, gw malah kena asma, tdk tahu gara2 polusi yg gw hirup dari bsepeda di pagi hari atau gara2 debu yg buanyakk. Yg jelas gw tdk melihat sepeda sbg kendaraan yg cocok 5-10tahun ke depan, angka pjualan sepedamotor saja 900/hari, itu di jkt thok loh mas..:-)

  7. Dhey JR says:

    Orang menganggap dirinya kaya jika sudah memiliki kendaraan bermotor. Jalan semakin macet n polusi ADUCH MINTA AMPUN sampai membuatku mimisan+skt kepala.
    Paradigma itu hrs segera diubah!
    Hmmm, tapi harga sepeda juga sudah g murah2 amat, yach! Ckk….ckkk…..
    SAVE OUR WORLD!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s