Archive | Ringan saja RSS feed for this section

Bagi saya “Bike to Work”, bukan lagi sekedar wacana

28 Apr

Saya termasuk satu diantara sekian orang yang tidak risau dan nyaris abai dengan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak. Loh kok begitu? Untunglah saya termasuk penyuka berat kegiatan bersepeda. Apalagi semenjak kembali ke Indonesia dan relokasi ke wilayah Jawa Timur, hobby tersebut mendapatkan ruang penyaluran yang sempurna.

Sungguhlah tepat bila saya katakan bahwa sepeda adalah kendaraan paling cerdas dan kreatif hasil kreasi manusia. Pikirkan saja, alat mobilitas ini tidak pernah basi sepanjang jaman dan yang utama hanya membutuhkan bahan bakar dari apa yang kita makan dan minum! Wow…..

Dari sekedar kesukaan bersepeda, mulai hari Jumat tanggal 27 April 2012 lalu, saya mantap melakoni keinginan yang lama tertahan yaitu bersepeda ke kantor! Ya begitulah, maka setiap hari Jumat saya akan berangkat ke dan pulang dari kantor menunggangi si kuda kayuh. Dengan jarak tempuh pergi hanya 20 km pada jalan yang nyaris sempurna datar, saya membutuhkan waktu 45 menit semenjak meninggalkan rumah pukul 05.30. Tantangan terberat memang saat pulang karena jalan raya disesaki ratusan motor dan aneka truk (maklum, jalan yang saya lalui adalah jalan utama lintas Surabaya-Sidoarjo). Ya, kendati memang penuh resiko sebagaimana pernah saya ungkit pada tulisan lalu, tapi saya tetap bisa menemukan kesenangan saat saya membayangkan telah beramal baik bagi bumi atau syukur-syukur berpapasan dengan serombongan gadis-gadis cantik. Ada moment ketika saya asyik menggenjot menuju kantor, seorang cyclist mendahului saya sambil tersenyum dan menyapa, saya bisa rasakan bahwa kami punya spirit yang sama, ah alangkah indahnya. Baiklah, lain kali akan saya bagikan pemandangan rute yang saya lalui menuju dan meninggalkan kantor.

Morning breeze, pemandangan pagi di jalan Ahmad Yani, Sidoarjo

Tantangan lalu lintas disore hari

Ah seandainya 30% saja pegawai mau mengontheli sepedanya, tentu lingkungan kita lebih sehat dan sedap. Yuk mari bergabung dengan saya!

Bila mata ingin berbagi cerita

Jadi ilmuwan Indonesia jangan cengeng!

24 Nov

Entah berapa kali saya mendapat pesan untuk tak perlu pulang ke Indonesia selepas lulus dari pendidikan tinggi di Korea. Dahulu pun sempat ada diskusi dalam forum mahasiswa Indonesia soal kembali atau tetap berkarya di luar Indonesia. Well, apapun yang terjadi, hal itu tetaplah sebuah pilihan, tak ada paksaan. Indonesia membutuhkan para ahli pikir dan ahli teknik yang bertebaran di luar sana untuk memulai sebuah kerja nyata. Tapi argumen yang diberikan seringkali tidak seperti yang diharapkan, ………… “Buat apa pulang ke Indonesia jika toh hanya dapat kerja bergaji cukup makan,  bekerja tidak sesuai dengan keahlian, lebih parahnya malah menganggur tidak karuan”. Saya paham, thesis dari argumen tadi adalah kesejahteraan hidup (siapa yang tidak membutuhkannya?). Tapi, perkenankan saya berbagi profil singkat tiga orang (saja) kenalan baik yang berani melawan serba ketidakpastian itu, bekerja dalam senyap, dan mulai menjadi pemenang. Mereka telah sukses di negeri asing dan akhirnya memutuskan untuk berkarya di Indonesia. Kita membutuhkan orang seperti mereka lebih banyak lagi! Ayo pulang!

(more…)

Tipikal warna warni pasar tradisional di Korea Selatan

23 Nov

Salah satu kegemaran saya adalah “bludusan” keluar masuk  pasar tradisional. Di Korea Selatan (Korsel) dan utamanya di Seoul, pasar tradisional memiliki rupa yang hampir seragam. Mungkin yang membedakan pasar satu dengan yang lain hanyalah luasan area. Kebersihan dan warna warni aneka barang jualan langsung menyergap mata dan mengundang rasa ingin tahu kita. Berikut ini saya abadikan beberapa gambar suasana pasar tidak jauh dari lokasi rumah saya, Jangwi Sijang (pasar Jangwi). (more…)

Sembilan alasan ingin pulang ke Indonesia

23 Jul

Rasanya tidak adil jika saya tidak mengungkapkan hal ini. Saya pernah menuliskan 10 alasan senang tinggal di Seoul, Korea Selatan, tapi kecintaan pada tanah air senantiasa menjadi daya harapan dan keinginan untuk kembali pulang pada saatnya nanti.  Saya berpikir keras tentang 10 alasan untuk pulang ke Indonesia tapi nyatanya saya hanya mendapatkan 9 saja. Tapi kesembilan alasan itu sudah cukup meneguhkan keinginan saya. Apa sajakah alasan itu?

(more…)

Paguyuban umat Katolik di Seoul Korea Selatan

11 Jul

Selama ini seringkali saya mendapat cerita bahwa umat Katolik Indonesia yang mengunjungi Korea Selatan (Korsel) khususnya Seoul atau Busan (kota nomor 2 terbesar) berharap menemukan sebuah komunitas umat Katolik Indonesia. Bahkan ada yang sudah lama menetap di Seoul tidak mengetahui bahwa paguyuban itu ternyata ada dan sangat-sangat hidup. Bersyukurlah karena kongregasi SVD (Divine Word Missionaries) berkarya di Korsel. Dari beberapa misionaris SVD asal Indonesia, umat Katolik Indonesia di Kota Seoul dan sekitarnya (serta Busan) mendapat pelayanan misa ekaristi secara rutin dalam bahasa Indonesia dan mendapat pendampingan rohani.

(more…)

Tamasya ke Bandara Incheon, mengapa tidak?

25 Jun

Pada musim dingin membeku atau musim panas menyengat di Seoul, tidak banyak pilihan tujuan wisata yang bisa dinikmati tanpa mengalami penderitaan. Mungkin wisata belanja ke mal hanyalah sedikit tawaran dan bisa saja menjemukan. Untunglah Seoul memiliki bandar udara mega konstruksi dilengkapi fasilitas lengkap layaknya sebuah kota mandiri. Bandara internasional Incheon yang terletak di sebuah pulau berjarak kurang lebih 1 jam perjalanan dari pusat kota mungkin bisa menjadi pilihan jitu menikmati akhir pekan.

(more…)

Bersama (Salib)-Mu kita akan menang

24 Jun

Memasuki arena pertandingan beberapa membuat tanda Salib. Selepas menjebol gawang lawan mereka membuat tanda salib, ketika kesebelasannya menang juga membuat tanda salib, berdoa sekian detik pada sosok yang pernah mati tersalib.

Salib bagiku adalah lambang penderitaan sekaligus kemenangan. Bagi sebagian pemain bola dunia tampaknya mereka mempercayai itu.

Hari gini bikin tanda salib ?!!? Bahkan sebelum dan sesudah makan saja hampir selalu melewatkannya………..

Tapi Wayne Rooney (penyerang dari tim nasional Inggris) saja mengenakan Rosario. Katolik taatkah dia? Entah………..mungkin itu dianggapnya jimat. Tapi dia percaya dengan salib bakal menang.

 

Wayne Rooney (Foto diambil dari Kompas online)

Jika selebriti yang hebat dan dipuja dunia pun masih percaya salib dan yang tersalib, mengapa kita orang biasa malah berpaling darinya? Ah, semoga tidak………………….

Selamat beraktifitas dimulai dengan tanda salib.

Bila mata ingin berbagi kata

Joko Widodo for president, hmm, mengapa tidak?

29 Jul

Saya bukan jenis manusia yang mudah memuji apalagi bersimpati dengan birokrat atau aparat negara. Tapi kali ini saya ingin mengungkapkan kekaguman kecil pada sosok yang bernama Joko Widodo. Beliau, Jokowi, begitu orang-orang memanggilnya, adalah pejabat walikota Solo saat ini (2005 – 2010 dan 2010-2015). Sebelumnya tidak memiliki karir dibidang politik dan pemerintahan, malahan dia aselinya adalah seorang saudagar mebel yang konsumennya dari aneka penjuru dunia. So what?!

(more…)

Tak sabar ingin naik kereta PRAMEKS Yogya-Solo

10 Jul

Sebagai imigran di negara lain, jika ditanya bentuk kerinduan apa yang paling dalam selain bertemu keluarga, maka saya akan menjawab, pulang ke kampung halaman Yogyakarta (hati saya mengharu biru rindu dendam jika teringat kota ini). Memang, selain wong Yogya aseli, banyak mantan penghuni kota nostalgia ini yang senantiasa mengenangnya sebagai kampung halaman kedua. Ada ujaran bernuansa mistis (urban legend), jika kita pernah mendengar suara Lampor (barisan prajurit istana ratu laut selatan) selama tinggal di Yogya, maka hati kita akan terpaut selamanya dengan kota kesultanan ini.

(more…)

Memotret kisah unik PEMILU presiden 2009 dari layar komputer

9 Jul

8 Juli 2009 bisa jadi bakal menjadi hari yang dikenang sepanjang masa oleh rakyat Indonesia. Ya, inilah hari saat pemilihan umum presiden dan wakil. Hasil pemilu ini sudah dapat diramalkan dan kita ketahui bersama. Karena kedudukan saya yang saat ini tidak di Indonesia, maka saya hanya bisa memantau hingar-bingar gebyar pemilu itu dari layar komputer.

Ada satu rangkaian berita yang menurut pandangan saya cukup unik dan mungkin juga sempat terekam dalam benak banyak orang. Beberapa jam setelah dimulainya kegiatan perhitungan cepat “Quick Count” oleh lembaga-lembaga survei, saya membaca laporan bahwa pasangan capres-cawapres (calon presiden dan wakil presiden) Megawati dan Prabowo memenangi perolehan suara mayoritas di banyak TPS-TPS (tempat pemungutan suara) yang digelar di Lembaga Pemasyarakatan. Pertanda apa ini? …………………… Silahkan rangkai-rangkai kesimpulan sesuka hati sendiri.

Jika mata ingin berbagi cerita

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,045 other followers