Entah berapa kali saya mendapat pesan untuk tak perlu pulang ke Indonesia selepas lulus dari pendidikan tinggi di Korea. Dahulu pun sempat ada diskusi dalam forum mahasiswa Indonesia soal kembali atau tetap berkarya di luar Indonesia. Well, apapun yang terjadi, hal itu tetaplah sebuah pilihan, tak ada paksaan. Indonesia membutuhkan para ahli pikir dan ahli teknik yang bertebaran di luar sana untuk memulai sebuah kerja nyata. Tapi argumen yang diberikan seringkali tidak seperti yang diharapkan, ………… “Buat apa pulang ke Indonesia jika toh hanya dapat kerja bergaji cukup makan, bekerja tidak sesuai dengan keahlian, lebih parahnya malah menganggur tidak karuan”. Saya paham, thesis dari argumen tadi adalah kesejahteraan hidup (siapa yang tidak membutuhkannya?). Tapi, perkenankan saya berbagi profil singkat tiga orang (saja) kenalan baik yang berani melawan serba ketidakpastian itu, bekerja dalam senyap, dan mulai menjadi pemenang. Mereka telah sukses di negeri asing dan akhirnya memutuskan untuk berkarya di Indonesia. Kita membutuhkan orang seperti mereka lebih banyak lagi! Ayo pulang!
Jadi ilmuwan Indonesia jangan cengeng!
24 NovSembilan alasan ingin pulang ke Indonesia
23 Jul
Rasanya tidak adil jika saya tidak mengungkapkan hal ini. Saya pernah menuliskan 10 alasan senang tinggal di Seoul, Korea Selatan, tapi kecintaan pada tanah air senantiasa menjadi daya harapan dan keinginan untuk kembali pulang pada saatnya nanti. Saya berpikir keras tentang 10 alasan untuk pulang ke Indonesia tapi nyatanya saya hanya mendapatkan 9 saja. Tapi kesembilan alasan itu sudah cukup meneguhkan keinginan saya. Apa sajakah alasan itu?
Joko Widodo for president, hmm, mengapa tidak?
29 Jul
Saya bukan jenis manusia yang mudah memuji apalagi bersimpati dengan birokrat atau aparat negara. Tapi kali ini saya ingin mengungkapkan kekaguman kecil pada sosok yang bernama Joko Widodo. Beliau, Jokowi, begitu orang-orang memanggilnya, adalah pejabat walikota Solo saat ini (2005 – 2010 dan 2010-2015). Sebelumnya tidak memiliki karir dibidang politik dan pemerintahan, malahan dia aselinya adalah seorang saudagar mebel yang konsumennya dari aneka penjuru dunia. So what?!
Mengapa pengajaran sains di universitas kita hanya mencetak sedikit ilmuwan. Sebuah saran minor
7 JulIni era internet, ini jamannya banjir informasi, ketiklah sebuah frasa di halaman kanjeng eyang “Google” dan tekan tombol Enter, maka ribuan jawaban akan tampil dalam beberapa kejap mata saja. Tapi ini jaman kini!
Masa-masa sebelum 1995 bisa dikatakan sebagai masa paceklik informasi bagi pelajar. Peluang untuk mendapatkan pengetahuan (khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi) di luar kelas bisa dibilang amat terbatas jika kita tidak ubek (ulet) mencarinya di perpustakaan kampus (yang sering kali koleksi bukunya sudah kadaluarsa dan terbatas jumlahnya). Tapi tulisan (opini) ini tidak hendak memuja-muji benda intangible (tak kasat mata) yang bernama internet atau tidak bermaksud menyalahkan keadaan yang serba mepet terbatas tadi. Tidak!. Tulisan singkat yang bersumber dari pengalaman subyektif penulis ini bermaksud ingin mengundang pembaca untuk berdiskusi demi pembelajaran yang lebih baik (semoga).
10 Alasan senang tinggal di Seoul, Korea Selatan
25 JunSemenjak tahun 2003 hingga tahun 2005, saya tinggal di Seoul, ibu kota Korea Selatan. Kemudian, akhir tahun 2006 hingga menjelang akhir 2007, saya sempat singgah di kota Freiburg im Bresgau, Jerman. Di tahun itu pula saya kembali ke Seoul hingga sekarang dan tak pernah menyesal sedikitpun meninggalkan Jerman. Mengapa ??? Dari sekian puluh kesenangan yang bisa saya dapatkan di kota Seoul, saya pilih 10 nominasi saja yang menjadi daya tarik Korsel dan menjadi keutamaan kota Seoul sehingga memikat hati saya untuk kembali.
Kesepuluh daya tarik itu adalah:
Ulang tahun Jakarta dan harapan untuk ruang terbuka hijau
24 JunSemakin tua semakin bijak dan semakin tentram hatinya. BUT, this is not the case for the (never) emerging metropolitan city, Jakarta. Di ulang tahunnya yang ke 482, Jakarta malah terkesan semakin tidak ramah bagi penghuninya.
Salah satu indikator nyaman atau tidaknya sebuah kota (besar) adalah tersedianya ruang terbuka hijau (RTH) yang mencukupi bagi pemenuhan aspek kesehatan lingkungan (paru-paru kota dan daerah resapan air), rekreasi, dan estetika. Apa saja komponen RTH? Ruang terbuka hijau sebagai “paru-paru kota” bisa berupa taman kota, hutan kota, lapangan olahraga, kuburan, jalur hijau (jalan, bantaran rel kereta api, dan jalur tegangan tinggi), dan jalur biru (bantaran sungai, danau, waduk, situ, rawa-rawa, empang, pantai), yang bisa membuat lingkungan kota sehat (Kompas Media Cetak).
Budaya kerja di laboratorium kampus, secuil kasus tentang kisah sukses Korea dalam membangun negeri
20 Jun
“24 hours a day, 7 days a week” begitu mungkin motto etos kerja masyarakat Korea Selatan, sangat dinamis dan terus berproses. Pencapaian prestasi Korea Selatan (Korsel) khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) hingga seperti sekarang merupakan sebuah kombinasi budaya (gaya hidup), ambisi, perencanaan matang, dana dan fasilitas yang dimiliki bangsa Korsel. Salah satu fragmen kecil yang mungkin menjadi salah satu kunci sukses adalah budaya kerja dan riset di kampus-kampus ketehnikan. Walaupun cerita ini bukan khas milik bangsa Korea saja, karena Jepang, china, Taiwan dan Singapore juga barangkali memiliki keserupaan, namun bagaimanapun juga Korsel mampu mencapai kesetaraan dengan mereka dalam waktu yang lebih singkat.
Indonesia, bangsa yang tidak pernah siap teknologi maju
18 JunIni baru pertengahan tahun 2009, dan tahun ini adalah tahun akbar, yaitu pemilihan umum legislatif dan yang terutama adalah pemilihan presiden (dan wakilnya). Celakanya, di tahun yang sama dan bahkan di masa yang tak berjangka lama, peristiwa-peristiwa kecelakaan yang berkaitan dengan teknologi transportasi, lingkungan kerja, dan situasi yang mungkin bisa menyebabkan kecelakaan seolah tak kunjung jeda. Kisah tragis terbaru adalah tiga kecelakaan alat angkut udara milik TNI [1,2] dan tabrakan kereta rel listrik [3], berita kecelakaan kerja meliputi ledakan dan kebakaran depo bahan bakar dan gas [4,5], ledakan di penambangan batu bara [6], serta meledaknya area simulasi di markas Brimob [7]. Keadaan yang bisa menimbulkan kecelakaan fatal misalnya cerita hilangnya mur baut dan lampu penerang jembatan supermegah Suramadu [8] dan dicurinya baut-baut pengikat rel kereta api [9], menyedihkan.
Bangsa Indonesia memang belum siap dan tampaknya tidak pernah siap menerima atau menciptakan teknologi tinggi. Ada kata-kata bijak, barang siapa setia pada perkara-perkara kecil, dia juga setia pada perkara besar. Tapi rangkaian kata ini jadi tak berbunyi di sanubari kita. Bangsa ini dan aparatnya tidak pernah belajar dari sejarah masa lalu bahwa pemeliharaan dan pengawasan alat-alat teknologi adalah syarat mutlak demi keamanan dan keselamatan!
Selama kita tidak mampu menjaga dan merawat alat-alat teknologi yang kita punya sekarang, jangan mimpi negeri kita bisa memiliki teknologi nuklir atau teknologi luar angkasa. Selamat merenungkan.
[1] Jatuhnya pesawat TNI di Kompas edisi cetak
[4] Ledakan depo BBM Plumpang, Jakarta
[5] Kebakaran depo filling LNG, Makassar
[6] Ledakan di penambangan batu bara, Sawahlunto
[7] Ledakan di markas Brimob, Kelapa Dua, Depok
[8] Jembatan Suramadu perlahan dijarah
[9] Pencurian mur baut dan bantalan pengikat rel kereta
Jika mata ingin bicara
Menjawab pertanyaan tentang BLUE ENERGY
24 MayRamai sekali komentar di www.detik.com, semenjak ada berita penemu blue energy, pak joko dikabarkan menghilang tapi ternyata dia baik-baik saja.
Saya sempat memberikan komentar juga di forum detik dan menantang atau mengundang teman-teman untuk mendapatkan informasi lebih jelas tentang apa itu blue energy dan dimana letak kesalahan persepsi maupun sumber polemik.
berikut ini saya tampilkan (apa adanya), jawaban saya terhadap pertanyaan beberapa teman yang menerima undangan saya di forum detik.
———————————————————
Melirik Dinamika Evolusi Inovasi Teknologi Korea Selatan
16 Aug
Terinspirasi dan ingin menyambung ulasan Saudara Ninok Leksono yang berjudul Harteknas: ”Low-Tech” Vs ”Hi-Tech”, Kompas, Rabu 15 Agustus 2007, sekaligus mengenang HUT kemerdekaan Korea Selatan yang secara kebetulan hanya berselisih dua hari dengan kemerdekaan Indonesia, maka tulisan ini ingin sekelumit menguak kebijakan dan perkembangan inovasi teknologi Korea Selatan yang mungkin bisa mencerahkan para pengampu kebijakan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi nasional.
