Archive | Kerja Lab RSS feed for this section

Sukses menulis artikel untuk jurnal ilmiah internasional

2 Nov

Dalam komunitas akademi dan penelitian, sebuah kerja bakal memiliki nilai ilmiah dan bermanfaat untuk dikembangkan jika bisa dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional.  Disamping itu, publikasi ilmiah merupakan bukti tanggung jawab profesi sebagai ilmuwan maupun akademisi. Kenyataannya, tidak semua hasil penelitian mendapat peluang ditayangkan dalam jurnal ilmiah internasional. Banyak hasil penelitian di Indonesia hanya berakhir sebagai buku skripsi atau thesis maupun lembar prosiding yang tidak melalui proses penjurian ketat. Padahal, jumlah publikasi internasional merupakan ukuran atau indeks kemajuan dan kematangan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu negara.

Untuk bisa menembus publikasi internasional rangking atas, dibutuhkan bukan sekedar ribuan data dan kecakapan menulis tapi juga kiat tertentu karena jurnal-jurnal papan atas memiliki tahap penjurian yang ketat. Sebenarnya aspek penting apa saja diluar isi naskah yang perlu diperhatikan demi suksesnya publikasi internasional sebuah artikel ilmiah? (more…)

Reaksi kimia organik dalam air, beberapa contoh reaksi kimia hijau

26 Jun

Beberapa waktu lalu sudah disinggung tentang 12 prinsip kimia hijau (green chemistry). Salah satu prinsipnya adalah memilih media reaksi yang tidak berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan (prinsip nomor 8). Air (H2O) dikenal sebagai pelarut universal dan dipertimbangkan sebagai kandidat utama medium reaksi dalam wacana kimia hijau. TAPI perlu diingat bahwa reaksi kimia dalam air dianggap hijau (green) jika dan hanya jika jalannya reaksi, proses daur ulang, dan pembuangan pelarut tidak memerlukan kerja tambahan yang rumit, tidak mengkonsumsi energi berlebihan atau tidak menimbulkan pencemaran.

Mari kita lihat beberapa contoh reaksi kimia organik di dalam medium air.

(more…)

Budaya kerja di laboratorium kampus, secuil kasus tentang kisah sukses Korea dalam membangun negeri

20 Jun

24 hours a day, 7 days a week” begitu mungkin motto etos kerja masyarakat Korea Selatan, sangat dinamis dan terus berproses. Pencapaian prestasi Korea Selatan (Korsel) khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) hingga seperti sekarang merupakan sebuah kombinasi budaya (gaya hidup), ambisi, perencanaan matang, dana dan fasilitas yang dimiliki bangsa Korsel. Salah satu fragmen kecil yang mungkin menjadi salah satu kunci sukses adalah budaya kerja dan riset di kampus-kampus ketehnikan. Walaupun cerita ini bukan khas milik bangsa Korea saja, karena Jepang, china, Taiwan dan Singapore juga barangkali memiliki keserupaan, namun bagaimanapun juga Korsel mampu mencapai kesetaraan dengan mereka dalam waktu yang lebih singkat.

(more…)

Labu penyimpan larutan absolut

22 Jun

Ada yang menarik dari desain alat gelas di lab ku untuk menyimpan stok pelarut absolut alias bebas air. Labu dilengkapi dengan mulut untuk memasukkan pelarut dan ditutup dengan teflon stopcock dan saluran panjang sebagai keluaran.

Cara penggunaannya cukup mudah, mula-mula labu dihubungkan pada Schlenk manifold dan divakum dengan tujuan menghilangkan jejak-jejak uap air atau oksigen pada mulut labu. Kemudian, dengan cara membuka sedikit stopcock, argon atau gas inert lainnya dialirkan dengan tekanan rendah kedalam labu. Akibat tekanan didalam labu maka pelarut bisa mengucur dari lubang keluaran jika stopcock keluaran dibuka. Setiap saat setelah penggunaan, labu senantiasa diisi dengan gas inert agar udara luar tidak masuk ke dalamnya.

Pengisian pelarutpun mudah, mulut labu cukup dihubungkan dengan alat destilasi ketika hendak memurnikan pelarut.

solvent_bulb.jpg

Bila mata ingin bicara

Schlenk manifold, perangkat lab yang penting

20 Jun

schlenk.jpg Mahasiswa kimia yang beruntung belajar di luar negeri pasti mengenal alat ini, mereka mungkin menggunakan schlenk manifold sepanjang waktu penelitian mereka.

Apa sih kegunaan alat ini? Dalam proses sintesa senyawa kimia seringkali dibutuhkan keadaan bebas kelembaban, bebas oksigen atau dikatakan keadaan atmosfer inert. Demikian pula, seringkali bahan kimia yang kita gunakan dan akan kita buat tidak boleh kontak dengan udara luar. Schlenk manifold merupakan suatu alat yang bisa digunakan untuk menciptakan keaadan atmosfer inert tadi.

Alat Schlenk bisa dibuat dari bahan gelas yang tahan tekanan maksimum 1 atmosfer atau terbuat dari logam misalnya stainless steel atau bisa juga dibuat dari bahan plastik teflon. Intinya, material tersebut harus sanggup menahan tekanan udara, tahan terhadap senyawa korosif dan mudah dibersihkan.

ada 2 macam desain alat schlenk, single manifold atau double manifold. Tujuannya sama namun double manifold memiliki keunggulan fungsi. Pada double manifold, satu manifold digunakan untuk memberikan keadaan vakum sedangkan manifold lainnya sebagai penyedia gas inert. Sebagai pengatur katup (stopcock) dikenal dua jenis, grease-free stocock terbuat dari bahan plastik teflon dan grease stopcock terbuat dari gelas. stopcock dari bahan plastik memiliki keunggulan karena bahannya fleksible, tidak pecah, mudah dibersihkan karena bebas pelumas (grease),

double_manifold_teflon.jpgdouble_manifold_glass.jpgdouble_trap.jpgjoint_1.jpgDi pangkal schlenk manifold dihubungkan dengan gas-volatile trapper sementara di ujungnya dihubungkan dengan sebuah gas bubbler (bisa berupa minyak silikon atau merkuri).

dewar.jpgvacuum_pump.jpgPada gas-volatile trap dihubungkan dengan pompa vakum. Setiap menggunakan Schlenk manifold, trap tadi selalu didinginkan dengan nitrogen cair yang ditampung dalam dewar (bejana menyerupai thermos yang tahan temperatur tinggi maupun rendah) agar segala macam senyawa volatil atau gas terperangkap dan membeku pada trap.

hal maha penting yang harus diperhatikan ketika menggunakan Schlenk manifold adalah menjaga agar nitrogen cair tetap terisi penuh di dalam dewar. Tujuannya agar tidak ada zat volatil yang tersedot masuk ke dalam pompa vakum dan bereaksi dengan pelumas pompa. Demikian pula, ketika selesai bekerja, salah satu katup pada Schlenk manifold harus dibuka agar tekanan menjadi sama dengan tekanan udara luar. Pada suhu nitrogen cair (-196 derajat Celcius), gas-gas seperti argon (b.p. -186 C) atau oksigen (b.p. -183 C) akan terperangkap dan terkondensasi di dalam trap. Jika manifold dibiarkan tertutup setelah usai digunakan dan nitrogen cair diangkat dari trap, maka gas yang terkondensasi tadi bisa mengembang dan mendesak manifold atau trap. Akibatnya sudah bisa dibayangkan, akan terjadi ledakan sekaligus menghancurkan manifold berkeping-keping. Selain itu, gas oksigen yang terkondensasi sangatlah reaktif dan mudah meledak akibat kontak dengan udara luar.

Foto berikut ini memperlihatkan dampak dari gas yang terperangkap dalam trap dan mengembang mengakibatkan trap jebol. Kejadian ini disebabkan karena terlambat membuka katup untuk membebaskan yang gas terkondensasi. Bayangkan jika kita tanpa pengaman berada di dekat ledakan trap tersebut, bisa-bisa pecahan gelas berserakan di wajah kita yang manis.
trap_pecah.jpg

Kerjaan gak jelas ………(Ph3C)2B12Cl12

11 Jun

Sampai hari ini masih saja mengerjakan eksperimen ini, membuat senyawa (Ph3C)2B12Cl12 (Ph = phenyl).

Reaksi sederhana methatesis alias tukar kation-anion antara senyawa (Ph3C)BF4 dengan Cs2B12Cl12. Yang menyebabkan reaksi ini tidak nyaman dilakukan adalah sifatnya yang sensitif terhadap kelembaban dan suhu. Sehingga, reaksi perlu dilakukan dalam keadaan bebas udara luar menggunakan gas argon sebagai pengkondisi keadaan inert tadi. Yang menarik adalah penggunaan wadah reaksi yang dedesain sedemikian rupa sehingga sangat praktis dan multiguna. Alat gelas ini disebut “double Schlenk” karena hasil penggabungan 2 tube schlenk dan diantaranya ditempatkan sebuah penyaring gelas (frits) No. 4 (pori sangat halus, ukuran 4 mikron). Hanya dengan memanfaatkan gradien temperatur diantara dua wadah tersebut, kita bisa memisahkan larutan dari padatan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,045 other followers